Feeds:
Pos
Komentar

           Ada beberapa alasan yang sering dikemukakan untuk menentang subsidi bahan bakar minyak (BBM). Pertama, dan mungkin paling sering dikemukakan, adalah subsidi tersebut tidak tepat sasaran. Subsidi BBM lebih banyak, kalau bukan hanya, dinikmati oleh orang yang punya kendaraan bermotor, tidak oleh orang-orang miskin yang paling membutuhkan. Kedua, subsidi BBM dari hari ke hari semakin membebani keuangan negara. Uang yang semestinya dapat digunakan untuk membiayai sektor pendidikan, kesehatan, atau pembangunan infrastruktur akan tersedot habis menjadi asap knalpot yang mengotori udara. Ketiga, subsidi BBM tidaklah sehat dipandang dari kaca mata ekonomi: membuat hitung-hitungan untung rugi menjadi kabur. Ia adalah bentuk proteksionisme yang membelenggu “invisible hand”-nya Adam Smith atau mengebiri inovasi-inovasi a la Schumpeter. Keempat, sebagian sangat-besar BBM merupakan hasil ekstraksi minyak bumi: sumber energi tak terbarukan yang cepat atau sangat cepat akan habis. Oleh karena itu, pemanfaatan BBM harus seefisien dan sehemat mungkin. Subsidi BBM jelas tidak mendukung upaya efisiensi dan penghematan. Alasan kelima, keenam, dan seterusnya boleh Anda tambahkan sendiri. Adapun alasan-alasan yang mendukung pemberian subsidi BBM tidak perlu dikemukakan di sini. Anggap saja tulisan ini mengamini berbagai alasan yang melatarbelakangi penentangan subsidi BBM. Lanjut Baca »

(Menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW)

Oleh : Teguh Rachmanto

al jannatu wana’imuhaa sa’dul limayyusholli wayusallim wayubaarik ‘alaih

[Syurga dan kenikmatannya semoga diperuntukkan bagi siapa saja yang bersholawat dan memohonkan selamat serta berkah atas nabi]

Itu adalah sebuah bait pembuka dalam Maulid Al Barzanjy. Di kampung-kampung tidaklah sulit mencari kelompok yang masih konsisten membacanya hingga kini. Bersama-sama dengan bacaan Maulid yang lain, Maulid Al Barzanjy eksis berdampingan, saling menguatkan, menambah keyakinan dan cinta pada Nabi Muhammad SAW.  Tidak pernah ada klaim mana yang paling shahih dan paling benar. Saya juga tidak pernah diajarkan bahwa  Maulid Al Barzanjy lebih baik dibandingkan Sirah Nabawiyyah ataupun sebaliknya. Lanjut Baca »

Mungkin akhir-akhir ini kita mulai sering mendengar kata panas bumi atau geothermal bahasa  londo-nya. Seperti tergambar dalam istilahnya, panas bumi merupakan sumber energi yang berasal dari sisa-sisa proses penciptaan bumi kira-kira 5 milyar tahun yang lalu. Panas ini terkurung oleh lapisan batuan beku di permukaan bumi yang kita pijak ini. Lapisan batuan beku yaitu batuan yang terbentuk dari pembekuan magma/lava ini begitu efektif menjaga panas yang terbentuk milyaran tahun itu tetap terjaga dalam bentuk batuan cair. Lanjut Baca »

Oleh : Ahmad Irham Fauzi

Hebat benar memang televisi itu. Betapa tidak, momentum kumpul-kumpul pas lebaran kemarin menorehkan memori sangat berkesan bagi saya. Di tengah kehangatan silaturahim melepas rindu, seorang kawan dengan bangga memamerkan kompetensi olah vokal anak perempuannya yang masih berusia 4 tahun. Sambil memegang mic, sang anak dengan pede memulai aksinya, “dasal kau keong lacun, balu kenal uda ngajak tidul….solly solly solly jek, ku bukan cewek mulahaaan”. Sang kawan tersenyum bangga, yang saya sambut dengan senyum di bibir sambil hati miris teriris-iris menjadi berlapis-lapis, untungnya tanpa tangis. Siapa lagi yang mengajari anak kecil itu kalau bukan televisi. Lanjut Baca »

Oleh : Teguh Rachmanto

Sejarah pendidikan formal kita dimulai sejak diberlakukannya Politik Etis di Indonesia. Politik etis di bidang edukasi, sebetulnya, bertujuan menghasilkan tenaga administratif kelas menengah untuk melakukan fungsi-fungsi pemerintahan dan kepentingan bisnis Belanda di Indonesia. Bisa disimpulkan bahwa tujuan pendidikan saat itu tidak ada urusannya dengan kesejahteraan rakyat Indonesia. Anak didik dipintarkan untuk selanjutnya dijadikan sekrup-sekrup kapitalisme lengkap dengan pelumasnya demi kelangsungan imperialisme di Indonesia. Namun apa yang terjadi, sekolah-sekolah saat itu justru menghasilkan pribadi-pribadi tangguh bervisi cemerlang seperti Ir. Soekarno, Drs. Muhammad Hatta, Dr Tjipto mangunkusumo, RA Kartini, Ki Hadjar Dewantoro. Lanjut Baca »

Oleh : Teguh Rachmanto

Sekitar 5-6 tahun yang lalu saya pernah datang ke sebuah pesantren di pedalaman Pasuruan. Waktu itu ada pelatihan bagi para mahasiswa baru ITS yang diselenggarakan sahabat-sahabat PMII. Pesantren menjadi pelabuhan terakhir bagi panitia yang stress karena kekurangan dana.

Syukurlah, sang kyai menerima dengan senang hati. Makan-minum dijamu, kamar istirahat sudah disiapkan, ruang pertemuan untuk diskusi juga sudah tersedia. Semua Gratis, tis tis… “Lho, kok bisa?”, tanyaku dalam hati penasaran.

Rasa penasaran saya terobati ketika acara pembukaan pelatihan dimulai. Sang kyai sebagai tuan rumah memberikan sambutan yang tak terlupakan. Ada tiga pesan utama beliau : Saya Titip Kyai (Kulo Titip Kyai), Saya Titip NU (Kulo Titip NU), Saya Titip Indonesia (Kulo Titip Indonesia). Dalam pikiran sang kyai, para mahasiswa inilah yang akan menangkap spirit modernitas untuk selanjutnya digunakan dalam mengawal para Kyai dalam melestarikan ajaran Islam ahlus sunnah wal jama’ah. Kemudian setelah lulus kuliah mereka diharapkan bisa berjuang bersama-sama kyai dalam wadah NU yang secara konsisten memperjuangkan kemerdekaan dan mempertahankan keutuhan NKRI hingga kini. Lanjut Baca »

Imlek dan Keadilan Sosial

Teguh Rachmanto

Memang sudah diatur dalam hidup ini semua berbeda, Ada yang rendah ada menengah dan ada yang tinggi pangkatnya agar satu sama lain bisa saling memerlukan agar roda kehidupan bisa berputar – berjalan……

Bagi penggemar Bang Haji Rhoma Irama tentu hafal dengan penggalan lagu di atas. Sangat indah bila dibandingkan dengan lagu-lagu yang lagi ngetop saat ini. Namun ternyata susah sekali menerapkan prinsip yang mulia tersebut meski sudah dibalut dengan melodi yang indah.

Suatu ketika saya sedang makan siang di sebuah depot mie terkenal di Surabaya. Di sela-sela menikmati gurihnya mie pangsit yang saya pesan terlihat di sebelah kasir di ujung ruangan ada seorang waitress tertunduk ketakutan dicaci-maki oleh seorang -maaf- tionghoa. Habis-habisan si koko menelanjangi kesalahan waitress itu. Terdengar oleh saya bahwa si koko tersinggung karena tidak segera dilayani. Sebagai pelanggan tetap si koko merasa disepelekan. Saya lihat saja dari kejauhan sambil menunggu kekerasan verbal dan psikis tersebut meningkat menjadi kekerasan fisik atau tidak. Syukurlah, diamnya mbak waitress membuat si koko segera ngeloyor pergi meski terus menggerutu. Yang pasti langkah kakinya diiringi muka bersungut-sungut. Sebelum pulang saya dekati mbak waitress yang sedang shock. Wajahnya pucat pasi, matanya merah menahan jatuhnya air mata sekuat tenaga sambil memaksa diri untuk terus tersenyum. “Sabar ya, mbak!”, kataku menghibur. Lanjut Baca »

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.