Oleh : Teguh Rachmanto
Tulisan ini bermula dari kegelisahan akan rencana kenaikan harga BBM yang sudah diumumkan oleh SBY.Penulis berupaya menghubungkan antara “kewarganegaraan”, prinsip-prinsip demokrasi, dan advokasi kebijakan dalam merespons kenaikan BBM kali ini.
Advokasi adalah sebuah cara dimana kita mempengaruhi para pengambil kebijakan tentang sesuatu yang benar-benar kita percayai (we strongly believe in)
Kata kunci pertama dari definisi advokasi di atas adalah “kita”. Kenaikan isu BBM ini dialami oleh semua kalangan; pengusaha, mahasiswa, pedagang kaki lima, guru, tukang becak, nelayan, buruh pabrik, pegawai negeri, yang HMI-PMII-KAMMI-GMNI-GMKI-PMKRI-dst, dari NU-Muhammadiyah-Hizbut Tahrir-Ahmadiyah-dst.Selanjutnya, tidak ada yang meng-advokasi dan di-advokasi. KITA semua tidak ada yang diuntungkan dalam kenaikan harga BBM ini, KITA semua tidak ada yang mengusulkan sekalipun pada pemerintah untuk menaikkan harga BBM, KITA semua tidak ada yang memberi mandat pada pemerintah untuk menaikkan harga BBM. Kebijakan untuk menaikkan harga BBM ini adalah model kebijakan “lose-lose solution”. Pemerintah semakin tidak mendapat tempat di hati masyarakat, rakyat semakin berat memikul beban kehidupannya sehari-hari. Anehnya, itu menjadi kebijakan (preferred policy) pemerintahan hasil pilihan rakyat sendiri secara LANGSUNG!!!!!
Kata kunci kedua dari definisi advokasi di atas adalah “percaya”. Ini bukan sekedar “percaya” tetapi “ benar-benar percaya”. Percaya terhadap apa? Percaya bahwa setiap warga negara berhak dan bertanggungjawab dalam setiap pengambilan kebijakan negara meski melalui serangkaian perjuangan sebagai perwujudan implementasi prinsip-prinsip demokrasi.Kepercayaan harus terus dibangun, disebarluaskan ditularkan kepada masyarakat agar tidak terjadi “pembiaran massal” (public ignorance) terhadap segala sesuatu yang akan mempengaruhi hajat hidup mereka kelak. Percaya bahwa pemimpin-pemimpin kita akan mendengar seruan warganya karena: a.Indonesia dibangun dari-oleh-untuk rakyat, b.para politisi dipilih oleh pemilih terdaftar seperti KITA, c.orang-orang yang kita pilih harus mewakili kita dan kepentingan kita.
Sampai hari ini, kita tidak tahu secara pasti “deposit minyak” di Indonesia dan berapa banyak uang yang bisa kita peroleh dari sana. Setelah itu dari besaran itu berapa yang diolah sendiri dan berapa yang diserahkan oleh pihak asing. Bila diserahkan kepada pihak asing berapa persen pembagian keuntungan dari hasil produksi. Pertanyaan selanjutnya adalah apa yang menjadi dasar bahwa prosentasi itu valid. Bila profit sharingnya 80% untuk pemerintah-20% pengelola, prosentase tersebut didapat dari besaran berapa? Bila yang tertulis di kontrak adalah 100 T padahal nilai sebenarnya adalah 1000T masihkah itu disebut sebagai profit sharing. Pertanyaan lugasnya adalah : Sudah sampaikan [pemerintah] Indonesia sampai pada pengetahuan tersebut. Karena itu yang akan menjadi dasar untung-rugi, besar-kecil, dalam menyikap persoalan minyak.
Sehingga, cukup aneh ketika mendadak SBY mewacanakan Indonesia untuk keluar dari OPEC karena Indonesia sudah bergeser dari negara eksportir menuju importir minyak. Sebagai warga negara apakah kita pernah mendapatkan penjelasan yang rasional dari pemerintah? Pernahkah SBY memberikan “kuliah” soal ini lewat acara yang disiarkan langsung oleh TV, dihadiri oleh seluruh anggota kabinet, pengusaha, duta besar dan, ini yang paling penting, dilihat langsung oleh seluruh rakyatnya. Bisa saja diberi tajuk : “Presidential Lectures featuring His People !!!!! Bukankah sama persis dengan yang sudah beliau lakukan dengan Bill Gates lewat Presidential Lectures featuring Chairman Microsoft Corp.? Kenapa tidak dilakukan?
Jika kenaikan BBM adalah “satu-satunya” resep manjur buat “kesehatan” APBN lalu adakah alasan yang tepat untuk melimpahkan beban itu pada masayarakat? Mengapa harus rakyat yang membayar hutang negara, menyeimbangkan neraca keuangan, menutup defisit anggaran? Di saat yang sama ada pengusaha yang masuk dalam daftar orang kaya versi majalah Forbes, ada menteri yang bisa melakukan ekspansi bisnis ke segala bidang, ada mantan menteri yang menguasai ekspor-impor, ada keluarga mantan penguasa yang masih segar bugar-sehat walafiat rebutan soal harta gono-gini bernilai trilyunan [bisa dibayangkan berapa nilai total kekayaan seluruh keluarga]. Jika semua ini, kenaikan BBM, adalah persoalan APBN maka atas nama keadilan, kejujuran, dan prinsip-prinsip demokrasi pemerintah tidak boleh menaikkan harga BBM. Pemerintah tidak boleh “sekalipun” menggunakan pendekatan ini : rakyat selalu menjadi objek penderita, tertuduh, bahkan terdakwa yang harus bertanggung jawab atas segala sesuatu yang tidak pernah mereka ketahui. Bila ini semua adalah persoalan APBN, secara umum, pemerintah seharusnya sudah melakukan intensifikasi pendapatan dan mendorong effisiensi pengeluaran hingga mencapai titik serendah-rendahnya. Intensifikasi pendapatan dilakukan dengan mendorong KPK mengembalikan asetaset yang dicuri oleh koruptor kelas kakap, teri, bawal maupun koruptor yang tidak pernah naik kelas. Semua diperlakukan sama, tegas, berwibawa tanpa tebang pilih. Apalagi disaat melakukan tebang pilih ada program “reboisasi koruptor” dari penguasa-penguasa baru di tingkat local-regional-nasional.
Ada banyak pilihan, kalau pemerintah mau, selama turbulensi ekonomi karena naiknya harga minyak dunia menjadi tak terkontrol Pertama : penundaan pembayaran hutang. Pemerintah harus bekerja keras bernegoisasi dengan negara-negara donor melakukan rescheduling. Bila sudah pernah dilakukan maka ulangi lagi, ulangi lagi, ulangi lagi. Sebagaimana Belanda terus-terusan menjarah kekayaan Indonesia selama 350 tahun. Pemerintah harus bisa meyakinkan negara-negara donor bahwa Indonesia adalah bangsa besar dengan rakyat yang relijius, yang selalu menepati janjinya pada siapapun termasuk kepada negara donor. Kalau perlu saat melakukan negoisasi bisa mengajak Aa’ Gym untuk memberi penjelasan seberapa relijius bangsa kita. Mereka pasti mau diajak untuk membantu meringankan rakyat sebab mereka dulu sudah pernah dilibatkan dalam membantu beban pemerintah dalam kenaikan BBM sebelumnya. Bangsa Indonesia akan membayar hutang-hutang ini bila saatnya tepat; yaitu : saat rakyatnya bisa mengelola kekayaan alamnya sendiri, saat rakyatnya hidup-mati, menjadi kaya-miskin dengan cara yang dipilih sendiri. Ini pilihan yang paling sopan, dibanding bila seluruh rayat Indonesia menuntut pengembalian atas segala perampokan pada zaman imperialisme kuno yang dikomandoi oleh mayoritas negara donor. Ini lebih rasional, sebab bila bangsa Indonesia kehilangan irasionalitasnya mereka akan mengajukan permintaan maaf pada Belanda dan mengajukan permohonan untuk kembali dijajah agar bisa terbebas dari jeratan hutang.
Sampai hari ini, kita tidak tahu secara pasti “deposit minyak” di Indonesia dan berapa banyak uang yang bisa kita peroleh dari sana. Setelah itu dari besaran itu berapa yang diolah sendiri dan berapa yang diserahkan oleh pihak asing. Bila diserahkan kepada pihak asing berapa persen pembagian keuntungan dari hasil produksi. Pertanyaan selanjutnya adalah apa yang menjadi dasar bahwa prosentasi itu valid. Bila profit sharingnya 80% untuk pemerintah-20% pengelola, prosentase tersebut didapat dari besaran berapa? Bila yang tertulis di kontrak adalah 100 T padahal nilai sebenarnya adalah 1000T masihkah itu disebut sebagai profit sharing. Pertanyaan lugasnya adalah : Sudah sampaikan [pemerintah] Indonesia sampai pada pengetahuan tersebut. Karena itu yang akan menjadi dasar untung-rugi, besar-kecil, dalam menyikap persoalan minyak.
Sehingga, cukup aneh ketika mendadak SBY mewacanakan Indonesia untuk keluar dari OPEC karena Indonesia sudah bergeser dari negara eksportir menuju importir minyak. Sebagai warga negara apakah kita pernah mendapatkan penjelasan yang rasional dari pemerintah? Pernahkah SBY memberikan “kuliah” soal ini lewat acara yang disiarkan langsung oleh TV, dihadiri oleh seluruh anggota kabinet, pengusaha, duta besar dan, ini yang paling penting, dilihat langsung oleh seluruh rakyatnya. Bisa saja diberi tajuk : “Presidential Lectures featuring His People !!!!! Bukankah sama persis dengan yang sudah beliau lakukan dengan Bill Gates lewat Presidential Lectures featuring Chairman Microsoft Corp.? Kenapa tidak dilakukan?
Jika kenaikan BBM adalah “satu-satunya” resep manjur buat “kesehatan” APBN lalu adakah alasan yang tepat untuk melimpahkan beban itu pada masayarakat? Mengapa harus rakyat yang membayar hutang negara, menyeimbangkan neraca keuangan, menutup defisit anggaran? Di saat yang sama ada pengusaha yang masuk dalam daftar orang kaya versi majalah Forbes, ada menteri yang bisa melakukan ekspansi bisnis ke segala bidang, ada mantan menteri yang menguasai ekspor-impor, ada keluarga mantan penguasa yang masih segar bugar-sehat walafiat rebutan soal harta gono-gini bernilai trilyunan [bisa dibayangkan berapa nilai total kekayaan seluruh keluarga]. Jika semua ini, kenaikan BBM, adalah persoalan APBN maka atas nama keadilan, kejujuran, dan prinsip-prinsip demokrasi pemerintah tidak boleh menaikkan harga BBM. Pemerintah tidak boleh “sekalipun” menggunakan pendekatan ini : rakyat selalu menjadi objek penderita, tertuduh, bahkan terdakwa yang harus bertanggung jawab atas segala sesuatu yang tidak pernah mereka ketahui. Bila ini semua adalah persoalan APBN, secara umum, pemerintah seharusnya sudah melakukan intensifikasi pendapatan dan mendorong effisiensi pengeluaran hingga mencapai titik serendah-rendahnya. Intensifikasi pendapatan dilakukan dengan mendorong KPK mengembalikan asetaset yang dicuri oleh koruptor kelas kakap, teri, bawal maupun koruptor yang tidak pernah naik kelas. Semua diperlakukan sama, tegas, berwibawa tanpa tebang pilih. Apalagi disaat melakukan tebang pilih ada program “reboisasi koruptor” dari penguasa-penguasa baru di tingkat local-regional-nasional.
Ada banyak pilihan, kalau pemerintah mau, selama turbulensi ekonomi karena naiknya harga minyak dunia menjadi tak terkontrol Pertama : penundaan pembayaran hutang. Pemerintah harus bekerja keras bernegoisasi dengan negara-negara donor melakukan rescheduling. Bila sudah pernah dilakukan maka ulangi lagi, ulangi lagi, ulangi lagi. Sebagaimana Belanda terus-terusan menjarah kekayaan Indonesia selama 350 tahun. Pemerintah harus bisa meyakinkan negara-negara donor bahwa Indonesia adalah bangsa besar dengan rakyat yang relijius, yang selalu menepati janjinya pada siapapun termasuk kepada negara donor. Kalau perlu saat melakukan negoisasi bisa mengajak Aa’ Gym untuk memberi penjelasan seberapa relijius bangsa kita. Mereka pasti mau diajak untuk membantu meringankan rakyat sebab mereka dulu sudah pernah dilibatkan dalam membantu beban pemerintah dalam kenaikan BBM sebelumnya. Bangsa Indonesia akan membayar hutang-hutang ini bila saatnya tepat; yaitu : saat rakyatnya bisa mengelola kekayaan alamnya sendiri, saat rakyatnya hidup-mati, menjadi kaya-miskin dengan cara yang dipilih sendiri. Ini pilihan yang paling sopan, dibanding bila seluruh rayat Indonesia menuntut pengembalian atas segala perampokan pada zaman imperialisme kuno yang dikomandoi oleh mayoritas negara donor. Ini lebih rasional, sebab bila bangsa Indonesia kehilangan irasionalitasnya mereka akan mengajukan permintaan maaf pada Belanda dan mengajukan permohonan untuk kembali dijajah agar bisa terbebas dari jeratan hutang.
Kedua, pembersihan jalur distribusi import BBM dari mafia. Kita semua setuju bahwa merekalah yang mengambil lebih besar dari yang mereka butuhkan. Ini semua terjadi karena pemerintah tidak dapat berbuat apa-apa. Kalaupun pemerintah mengetahuinya pasti “tutup mata” dan “buka dompet” pada saat yang sama. Yang menjadi mafia tentu saja bukan birokrasi namun rekan sejawat, keluarga-kerabat, sanak saudara, dan anggota keluaraga para birokrat. Pemerintah harus menjamin bisa membersihkan mereka dalam waktu singkat. Bukankah mereka “orang-orang dalam”, yang nama, nomor telepon hingga no rekeningnyapun juga tahu sama tahu. Akting pemerintah harus lebih meyakinkan. Kalau perlu anak menteri yang jadi direktur salah satu TV swasta ditangkap dan dimasukkan dalam “penjara”. Meski nggak ada kaitannya dengan BBM tapi ini adalah strategi “melempar ular, mengusir monyet”. Insya allah, monyet-monyet yang jadi mafia BBM itu akan lari tunggang langgang. Mereka akan kembali pada maqomnya semula. Mereka akan tersadar bahwa monyet cuma butuh pisang bukannya jadi mafia BBM.
Ketiga, efisiensi BUMN dalam operasional mereka. Karena mereka adalah ujung tombak dalam memacu pendapatan negara bersama petugas pajak. Semakin tidak effisiensi berarti semakin kehilangan potensi pendapatan. Jangan pernah ada statemen bahwa BUMN mengalami kerugian sebab di saat yang sama staff, pegawai, karyawan, bahkan direkturnya tidak mengesankan sedang bekerja di perusahaan yang merugi. Bila kita kehilangan sesuatu yang bisa kita dapatkan secara independen maka tidak ada kata yang lebih tepat untuk menggambarkannya selain kebodohan.
Ala kulli haal, sudah saatnya pemerintah membuat kebijakan “feasible” bukan kebijakan termudah demi memperhatikan kelangsungan hidup masyarakat dalam jangka panjang-jangka pendek. Kenaikan BBM ini bukan yang pertama, bukan pula yang terkahir bila setiap pemerintahan mengambil langkah taktis disbanding strategis. Kenaikan BBM 30% tahun ini murni langkah taktis? Langkah strategisnya masih menunggu dorongan masyarakat, gerakan social, aksi massa yang lebih besar untuk membuka mata-telinga-hati pemerintah akan kesulitan hidup rakyatnya sendiri.
Ala kulli haal, sudah saatnya pemerintah membuat kebijakan “feasible” bukan kebijakan termudah demi memperhatikan kelangsungan hidup masyarakat dalam jangka panjang-jangka pendek. Kenaikan BBM ini bukan yang pertama, bukan pula yang terkahir bila setiap pemerintahan mengambil langkah taktis disbanding strategis. Kenaikan BBM 30% tahun ini murni langkah taktis? Langkah strategisnya masih menunggu dorongan masyarakat, gerakan social, aksi massa yang lebih besar untuk membuka mata-telinga-hati pemerintah akan kesulitan hidup rakyatnya sendiri.







Inilah warisan orde baru….orde yang lebih kejam dari komunis..dan kita tau para pejabat-pejabat kita adalah generasi-generasi orba..jadi harap bersabar sampai terjadi pergantian generasi…
saya sendiri menyakini..ketika perubahan di Indonesia dilakukan secara perlahan(reformasi)..dan bukan perubahan secara cepat (revolusi)..maka diperlukan waktu yg kurang lebih sama untuk menghilangkan pengaruh rezim sebelumnyaa..kita kan baru 10 tahun reformasi..jadi masih butuh waktu lama (10 atau 20 tahun) lagi..
“Sampai hari ini, kita tidak tahu secara pasti “deposit minyak” di Indonesia dan berapa banyak uang yang bisa kita peroleh dari sana. Setelah itu dari besaran itu berapa yang diolah sendiri dan berapa yang diserahkan oleh pihak asing. Bila diserahkan kepada pihak asing berapa persen pembagian keuntungan dari hasil produksi. Pertanyaan selanjutnya adalah apa yang menjadi dasar bahwa prosentasi itu valid. Bila profit sharingnya 80% untuk pemerintah-20% pengelola, prosentase tersebut didapat dari besaran berapa?”
Hanya karena anda tidak tahu informasi dan data di atas, tidak berarti orang2 lain (apalagi pemerintah) tidak tahu juga. Saya saja yang bukan orang pemerintahan bisa lihat data tsb kok. Asal niat dan usaha nyari. Nah setelah lihat angka2 tsb, silahkan dianalisis dan baru nulis buat publik.
Kalau menunda pembayaran utang, tetap harus dibayar kan? Anda tega anak cucu kita yang harus menanggung beban utang? Apakah semakin lama kekayaan alam kita semakin bertambah atau berkurang? Apakah semakin lama penduduk kita semakin bertambah atau berkurang? Apakah semakin lama konsumsi energi kita semakin naik atau turun?
Saya lebih setuju memikirkan masa depan Indonesia bukan hanya kenyamanan kita hari ini. Just my two cent. Beda pendapat boleh kan
Thanks, buat commentnya. Sangat tajam buat perbaikan tulisan-tulisan saya berikutnya. Inilah indahnya demokrasi. Meski sayangnya pemerintah kita kurang begitu menerapkan demokrasi dalam pengambilan kebijakan, termasuk kenaikan BBM, ini.
Saya nggak kaget karena pembaca cenderung “melihat” sisi yang dia anggap menarik. That’s fine! hanya saja lontaran saya dalam paragraf yang anda kutip sebenarnya adalah tantangan epistemologis, bukan sekedar tantangan empirik. saya juga sudah baca, misalnya, laporan tahunan santos dalam proyek2nya di Indonesia. tapi persoalannya berapa banyak orang di Indonesia yang akrab dengan teknologi. kalaupun iya berapa banyak yang digunakan untuk hal-hal yang positif. selebihnya? WHO CARES…..
kalau saya yang mencari data2nya, tolong di forward ya, kemudian saya harus menganalisisnya. setelah itu saya harus menjelaskan kepada masyarakat bahwa maksud dari pemerintah adalah ini-itu dsb lalu apa kerjaan doktor2 lulusan luar negeri yang katanya jagoan itu. kalo opsinya cuman menambah beban masyarakat guna menyeimbangkan APBN kita?
So, pemerintah harus dapat insight beragam dari warganya, termasuk dari saya dan anda.
tapi oke, sebagai warga negara, saya harus melakukan itu karena fungsi tersebut tidak pernah dijalankan dengan baik oleh pemerintah. harga bbm setinggi langitpun akan dibayar oleh rakyat sebab itu memang kebutuhan. tapi mbok ya ada penjelasan resmi dari pemerintah. Penjelasannya bukan soal naik berapa persen, itu nggak penting. tapi hal-hal mendasar, sebagaimana yang saya ungkap dalam tulisan saya, yang perlu diketahui oleh banyak orang. Sudahlah, rakyat pasti bisa ngerti kok. sejak kapan sih rakyat kita ndak pernah manut. Wong digobloki berabad-abad saja masih oke kok!
so, saya sepakat dengan rizal ramli bahwa harus ada public hearing soal kenaikan BBM ini untuk mengecek benar seberapa strategis langkah yang diambil pemerintah saat ini.
Saya juga nggak tega kalo anak cucu kita harus membayar hutang negara yang tidak pernah mereka nikmati karena pendidikan mahal, minyak tanah harus antri, kesehatan juga makin nggak terjangkau. Asal tau saja bahwa ada bagian dari bangsa ini yang tidak pernah mendpatkan “dana pemerintah” karena meeka tidak punya identitas sehingga tidak diakui oleh negara (stateless). nah, intervensi program pemerintah sebagai kompensasi kenaikan BBM, biasanya, tidak akan mampu menjangkau mereka. apakah adil kalo mereka harus bayar utang????
Itu saja. pemerintah, Go ahead! naikkan harga BBM tahun depan belum tentu kamu jadi pejabat lagi. tapi sampai kapanpun kami akan tetap menjadi rakyat!!!!!! Sangat adil bukan?
iya neh…parah..BBM naik, kasian rakyat miskin yang udah bener2 ngak mampu lagi buat makan or beli macem2..percuma dikasih BLT senilai Rp 100,000..buat apaan duit segitu…belom lagi pasti kena pungli…wah..bener2 deh…
so bersyukur deh kita2 yang masih mampu buat makan and hidup enak…mudah2an tahun depan keadaan makin baik lagi ya…Amin…
http://www.designbyeduard.com
WAHAI ANAK BANGSA” BANGUNLHAH!,
BUKALAH MATAMU!
BERDIRILAH DENGAN KAKIMU, SING-SINGKAN LENGANMU,
MARI BANGKIT! UNTUK INDONESIAMU TERCINTA
INDONESIA KITA TIDAK PERNAH MERDEKA!
INDONESIA KITA TERUS MENANGIS”
INDONESIA KITA TERUS MERANA”
INDONESIA KITA SELALU DI PERKOSA
“PELAKUNYA ADALAH IMPERIALISME ANAK SANG KAPITALIS”
NEGERI KTA DARI DULU SAMPAI SEKARANG TERUS TERJAJAH
SADARKAH KITA BAHWA TIGA PEREMPAT KEKAYAAN NEGERI INI
TELAH TERKURAS HABIS, OLEH SETAN IMPERIALISME
NEGERI INI MENYEDIAKAN SELURUH KEKAYAAN BUMI, MEMILIKI
SEJUTA PESONA, BAHKAN SEJUTA RASA.
KITA PEMILIK SAH NEGERI INI, NAMUN TERPASUNG OLEH SISTEM
IMPERILALISME MODERN, TERJEBAK OLEH SEKULARISME
PARTIKULAR, TERLENA OLEH HEDONISME SEMU.
SADARKAH KITA, SETIAP BANGSA BERHAK ATAS DIRI DAN
TANAH AIRNYA, AKAKAH KAU GADAIKAN DEMI KENIKAMATAN
SESAAT, TENGOKLAH KE BELAKANG!
MAU JADI APAKAH NEGERI INI?
BAGAIMANA NASIB ANAK CUCU KITA KELAK, JIKA KITA HARI INI
TIDAK PERNAH MEMBERI MEREKA KEKUATAN UNTUK MENGUASAI
NEGERI INI, DAN MENGOLAHNYA UNTUK KESEJAHTERAAN MEREKA
SEPENUHNYA, BUKAN UNTUK NEGARA TETANGGA, BUKAN UNTUK
ADI DAYA, DAN BUKAN PULA UNTUK INVESTOR.
IMPERIALISME NEGERI INI SUDAH KETERLALUAN, SANGAT
MENGERIKAN DAN MEMILUKAN, KITA TENTU TIDAK INGIN
SELAMANYA MENJADI BANGSA TERJAJAH, TERHINA,
TERLUKA DAN TIDAK MERDEKA.
MARI SATUKAN TEKAD, BULATKAN NIAT!
KITA HARUS MEREBUT KEMBALI SEMUA KEKAYAAN KITA,
JANGAN BIARKAN SAWAH DAN LADANG KITA DI BAJAK
ORANG, JANGAN BIARKAN LAUT KITA DI AMBIL ORANG,
JANGAN BIARKAN HUTAN KITA DITEBANG ORANG,
JANGAN BIARKAN BUDAYA KITA DICURI ORANG.
MARI KITA RAMPOK SEMUA BANK, MARI KITA SEGEL
SEMUA KANTOR PEMERINTAH, MARI KITA AMBIL ALIH
SEMUA PABRIK, MARI KITA GANTI IDENTITAS NEGERI
INI DENGAN BUDAYA KITA, BUDAYA TIMUR YANG SEJAK
DULU MENJADI DARAH DAN INSPIRASI HIDUP KITA.
PERSETAN DENGAN KEPERCAYAAN, PERSETAN
DENGAN SEGALA BENTUK KEYAKINAN, YANG JELAS
MEREKA TIDAK PERNAH MEMBERI KITA HARAPAN,
APALAGI KEBAHAGIAAN!
UNTUK MENJADI ORANG BAIK TIDAK PERLU PENGABDIAN,
TAPI HARUS DENGAN PENGORBANAN, PEPERANGAN DAN
MENEGAKKAN KEADILAN.
YANG BISA KITA LAKUKAN HARI INI ADALAH :
REVOLUSI
REVOLUSI……
Lha ya, kita ini punya salah apa sama sby-jk. sudah dijadikan presiden, anaknya dapat anisa pohan. Sekarang, malah mau naikkan harga BBM. Benar pendapat sampyn, kita tak pernah sedikit pun mengamanatkan pada mereka untuk menaikkan harga BBM. Tidak pernah. Sekali lagi, tidak pernah. Swear, sumpah pocong, ga pernah.
Diingatkan (demo), bahwa kenaikan harga BBM pasti merugikan semua (kita) rakyat indonesia, malah dituduh ditunggangi. Terus kita mau bagimana? Mau mereka (sby-jk) apa? Mau kita (rakyat) mati? Sekalian ajalah, BLT jangan berupa duit, berikan racun aja, biar mati sekalian.
Tim ekonomi (sby-jk) yang BRILIAN nan BELIAN itu, saya yakin (haqqul yaqin), tahu bahwa ada solusi lain sperti yang sampyn sebutkan dan rizal ramli omongkan. Tapi, masalahnya, paradigma yang ada di OTAK CERDAS mereka adalah KETIDAKADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA. Itu sudah !!! tak lebih.
Saya mah gak ngerti itung-itungan kaya gt dan gak mau tau,yang saya tau pasti klo BBM naik biaya hidup pasti jadi selangit apalagi didaerah pedalaman seperti berau,BBM belum naik harga-harga dah selangit apalagi BBM naik….pusing!!!
Sebenarnya masih banyak cara yang bisa ditempuh pemerintah selain menaikkan harga BBM.Salah satunya adalah usul yang disampaikan penelpon berita di metro TV,mungkin teman-teman ada yang dah lihat,yaitu,pengembalian subsidi BBM dari para pemilik kendaraan bermotor.Caranya bisa dengan dikenakan biaya tambahan saat mengurus STNK.Jadi mereka yang tidak punya kendaraan tidak perlu pusing,harga-harga pun melonjaknya tidak akan terlalu tinggi.Dengan demikian mereka yang tidak pernah pakai premium,pertamax ato apa ajalah karena tidak punya kendaraan dan mereka yang tidak pernah pakai minyak tanah ato elpiji karena pake kayu.tidak semakin tercekik dengan biaya tingggi karena kenaikan harga BBM,adil bukan???
Ato turunkan aja gaji DPR dan pejabat tinggi,hilangkan tunjangan-tunjangan yang selangit,hapuskan program studi banding(JJS) keluar negeri….kan lumayan buat ngurangin anggaran belanja negara.
dear all,
gak tau ini menyesatkan pa tidak. namun lumayan untuk bahan bacaan ttg harga minyak.
coba buka di : http://ekonomi-migas.blogspot.com/
dan juga komentar nya di : https://www.blogger.com/comment.g?blogID=31693580&postID=614245640149725299&isPopup=true
maybe can see at this site :
http://ekonomi-migas.blogspot.com/
or
https://www.blogger.com/comment.g?blogID=31693580&postID=614245640149725299&isPopup=true
nambahi komentar saja, mestinya pemerintah Republik ini ngasih press release ttg kenapa BBM harus naik.kalo perlu, kasih itung2an yang detail…negeri ini sudah banyak orang pinter…..
semoga nyambung sama topik diatas..ini ada artikel serupa di http://ekonomi-migas.blogspot.com/ atau http://feea3.blogspot.com/ …………….
sekian,
NUchan
http://ekonomi-migas.blogspot.com/ ataupun di http://feea3.blogspot.com/
yup BBM memang mau naik 30% tapi benar nggak nanti naiknya 30%? kita tunggu hasilnya nanti.
setiap kali ada isu kenaikan BBM banyak cara yang dilakukan untuk meminta pada pemerintah kejelasan kenaikan BBM, baik melalui dialog maupun orasi kejalan tetapi semuanya seperti tidak ada gunanya, pemerintah tetap menaikkan BBM. sedangkan penjelasan yang diminta tetap saja isinya membenarkan keputusan pemerintah seakan-akan jalan alternatif cuma bisa ditemukan tuhan. banyak strategi manajemen kita tawarkan pada pemerintah tapi tidak ada yang digubris, sepertinya rakyat itu manusia tanpa muka karena mereka sering terburu2 ktka diajak berdialog seakan2 kita itu setan alas yang harus dihindari atau malah lebih parah setan tanpa otak.
seandainya memang BBM harus naik penjelasan logis untuk itu samua mana? seandainya data2 tentang deposit minyak, profit sharing, manajemen ekspor impor, manajemen pendistrbusian itu ada(atau bahkan valid senyata dengan arah jalannya montor tangki minyak nang ndalan) alangkah senangnya saya. apalagi kalo ada yang mengasih bahagia sekali saya.
saya kira jalan terbaik adalah kita sekarang harus sering berdoa atau kalo terpaksa kita menyajikan korban seperti yang dilakukan nabi ibrahim terhadap anaknya ismail. hanya saja korbannya kali ini adalah pemerintah. caranya adalah kita minta pemerintah menanggung semua dosa kita dan kita mengijinkan pemerintah menaikkan BBM, sehingga nanti kita diakhirat bisa hidup bahagia, didunia hidup menderita(gak enak tenan pilihane). aku yakin pejabat pemerintah yak langsung gelem.
BBM.. BBM ..nggak make pusing
makek juga pusing
manajemen yang paling baik sekarang dan harus segera diterapkan adalah memPHK pejabat pemerintah agar ada regulasi dibadan pemerintahan. seperti (istilah bioremediasi) regulasi pada tumbuhan penting untuk mmeregenerasi sel baru dan membuang toxin yang mengendap ditubuh tumbuhan. jadi regulasi untuk homeostatis itu penting, untuk membuang toxin.
Saya dah baca situss yang disarankan Nucahan. Nice Job, NU! ada banyak info teknis menarik disana. Saya baru bisa memahami sikap “keras kepala” pemerintah dalam menaikkan BBM ini setelah membaca artikelnya. Negara ini dipenuhi oleh orang yang keras kepala, sombong, dan tuli. Pantas saja, lha wong mentalitas pejabatnya begitu semua, kok!
Seperti anjuran dari mantan staf Menristek yang menyebut bahwa sekarang sudah bukan saatnya lagi berfilosofi, yang terpenting adalah welcoming infrastructure.
Nih, saya kutip aja tulisannya
Jangan berilusi tentang ketergantungan pada Pihak Asing. Kapal Terbang? Mobil? Motor? Bahkan Sepedapun tergantung pada pihak asing. Kok itu. Staples, isi staples, peniti dan jarumpun tergantung pada pihak asing. Bahkan bukan itu saja. Beras, gula, bungkil kelapa, garam dan bahkan kedelepun sekarang ini tergantung pada pihak asing. Karena itu hindarilah berfilosofi. Yang perlu disiapkan adalah suatu kebijakan alih teknologi yang progressif, melalui adopsi, adaptasi dan innovasi, atau istilah ilmiahnya, melalui lisensi, integrasi teknologi dan innovasi, di semua strata pembangunan yang menggunakan teknologi. Untuk maksud ini perlu disiapkan apa yang saya sebut welcoming infrastructure. Dalam hal ini peran akademisi sangat besar dan berarti!
Iya, ta? Apa benar semua persoalan bangsa kita ini bisa diselesaikan dengan pendekatan teknis belaka. kalo bisa, saran saya, go ahead!!!! Meski dengan demikian sampeyan sudah jauh ketinggalan. Muhammad Yunus bisa berhasil menggerakkan ekonomi masyarakat miskin dengan “people centered development approach”. masyarakat miskin disuruh nabung biar bertanggung jawab terhadap keuangan mereka sendiri. Lha disini, sudah BBM dinaikkan negara yang diisi orang-orang keras kepala itu dengan sangat sombongnya merilis pembagian BLT melalui kantor pos.
Atau pendapat dari MPEL yang menyatakan masyarakat sudah siap dengan kenaikan BBM.
……….Saat ini perekonomian Indonesia paling tidak sudah pulih kembali seperti keadaan sebelum kenaikan BBM tahun 2005. Jadi sudah siap untuk menerima kenaikan harga BBM. Tetapi tentunya tidak sepertyi kenaikan tahun 2005 yang dilakukan dua kali hingga melebihi 150 persen
Iya, ta? Tau darimana mereka soal masyarakat. Apa dikira kalo sudah mengucurkan kredit untuk UKM masalah jadi selesai. Lihat di kota Surabaya, PKL-PKL digusuri semua. Buat apa kredit usaha kalo usahanya nggak diberi kesempatan hidup. Pengen tau soal BLT, di kampung saya ada banyak warga yang stateless, nggak punya identitas. Gimana cara pemerintah bisa bantu mereka
Ah, saya jadi kebakaran sendirian. ada yang nyusul……
sebenarnya banyak informasi lain yang bisa didapat cak.cuma selama tidak ada data tandingan atau yang menentang (mengkritik),berarti data itu saja yang kita percaya….ini ada juga artikel dari KKG di http://www.infoindonesia.wordpress.com ….
ditambahkan lagi cak… di milis IndoEnergy lagi panas-panasnya mbahas kenaikan BBM, demo mahasiswa, dan ulasan dari Adhie Massardi yang kemudian ditanggapi oleh member lainnya…. adapun cuplikan tanggapan tersebut dapat dibaca di situs berikut : http://rovicky.wordpress.com/2008/05/25/jual-beli-minyak/
salam hangat buat semua sahabat….
La carane menolak gimana mas, dalam tataran praktis, kalau misalkan kita ga bisa ikut demo/ misalkan kita ga bisa turun di jalan dll???? thxb4
Iya, nih mbak! aku juga lagi prihatin dengan prilaku kekanak-kanakan yang mulai muncul diantara kita. Misalnya, kalo nggak ikut demo dianggap tidak progressif, masturbasi intelektual, “tukang dakwah” dan lain sebagainya. Ahh, pantesan aja dunia pergerakan kita jadi muter-muter di tempat. Lha wong diantara “pemeluk” ideologi gerakan sendiri ada potensi untuk “self destructive”, menghancurkan diri sendiri, “ngentahi” satu sama lain meski saya tau itu bukan sampeyan. he333
Saat saya demo stren kali dulu saya tidak pernah merendahkan sekalipun sahabat-sahabat yang tidak pernah ikut “mbelani” saya. Ndak perlu itu, kekanak-kanakan.
Lha, nyambung dengan pertanyaan sampeyan menurutku kenaikan BBM ini adalah persoalan strategis sehingga agak susah juga menemukan langkah praksis untuk menolaknya. Demonstrasi habis-habisan dihadapi dengan kepala batu oleh SBY-JK. Mungkin ada shabat2 lain yang bisa bantu saya?
Namun menurut saya, langkah pertama adalah dengan tidak serta merta menerima rasionalisasi penaikan harga BBM ini. Mungkin bagi kita hari ini sikap seperti itu tidak ada gunanya. Namun bila 10-15 tahun yang akan datang kita berkesempatan memimpin negara ini kita tidak akan mudah membebankan “defisit anggaran” negara kepada rakyat.
langkah kedua adalah dengan mendiseminasikan wacana tersebut kepada siapapun agar bangsa ini punya optimisme yang luar biasa terhadap segala solusi alternatif yang layak dicoba. Minimal begini, dengan mengikuti saran IMF kita gagal, mengikuti saran ekonom pribumi kita juga gagal, maka akan tiba saatnya bagi ekonom pro rakyat yang perlu dicoba. Tulisan ini saya dedikasikan untuk tujuan tersebut, mesti saya juga tidak bisa ikut demo. Just like U… He3333