BANJI R
Sudah terlalu sering kita mendengar berita tentang banjir. Dari ujung Jawa bagian timur mulai dari Situbondo, Surabaya, Malang, Lamongan, Tuban, kota tercinta saya Trenggalek, Pacitan, Ponorogo, Madiun, Ngawi masuk ke Jawa bagian tengah mulai dari Cepu, Solo hingga Jawa bagian barat, Bandung dan Jakarta. Lalu diluar Jawa ada Sumatra dan Kalimantan. Ibarat penyakit yang sedang mewabah secara cepat dan luas pada berbagai daerah, banjir juga telah menyebar secara endemik dan menghiasi acara infotainment, menjadi headline media massa cetak dan elektronik.

Kini banjir bukan saja milik eksklusif kota-kota besar dengan jumlah penduduk yang padat dan dipenuhi dengan masyarakat urban seperti Jakarta maupun Surabaya saja. Karena banjir telah merambah ke wilayah dengan kepadatan penduduk yang relative rendah seperti Trenggalek dan Ponorogo juga di kota-kota luar jawa. Bukan hanya milik wilayah yang mempunyai ketinggian tanah hanya beberapa meter saja seperti Jakarta dan Surabaya saja. Karena banjir telah merambah wilayah dengan ketinggian tanah yang bisa dikatakan cukup tinggi seperti malang dan bandung. Bukan hanya milik wilayah yang mempunyai sungai besar, namun juga telah mencapai wilayah dimana sungai-sungi kecil mengalir. Bukan hanya milik daerah hilir, tapi sudah mencapai hulu.
Dan akibat dari banjir ini sungguh luar biasa, tak pernah terkira sebelumnya. Di daerah perkotaan, banjir telah membuat perekonomian lumpuh dengan merendam pusat-pusat perbelanjaan seperti pasar (tradisional) dan jalan-jalan utama. Di pedesaan membuat padi yang siap dipanen menjadi roboh dan membusuk. Banjir juga telah meluap ke jalan-jalan propinsi mengakibatkan kemacetan yang tak terkira antara madiun hingga solo juga sepanjang jalur pantura yang mengakibatkan kemacetan puluhan kilometer.
Belum lagi puluhan nyawa melayang karena jembatan yang tiba-tiba hanyut terbawa arus sungai. Harta benda, barang dagangan dan peralatan elektronik yang terendam dan hanyut, surat-surat berharga yang ikut raib.
Belum lagi permasalahan kurangnya air bersih karena sumur-sumur mereka tidak dapat dipakai karena kotor dan bercampur dengan lumpur dan kotoran lain yang dibawa banjir. Terakhir adalah permasalahan asupan gizi karena tidak dapat memasak dan masalah kesehatan. Semuanya hanya karena masalah air yang melimpah saja.
Sedia … sebelum banjir
Disini sengaja tidak saya bahas akar permasalahan banjir ini.
Sudah terlalu kompleks. Ibarat orang yang sedang mengidap penyakit, sudah komplikasi. Hilangnya hutan, tidak adanya resapan air, tata ruang yang tidak semestinya, kebiasaan membuang sampah sembarangan yang sudah membudaya termasuk pengaruh teknologi recycle yang tidak diterapkan pada semua bahan sehingga bumi ini penuh sampah, dan lain sebagainya.
Ada banyak upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah banjir. Cara instant yang efektif adalah dengan memperbanyak daerah resapan air. Proyek banjir kanal timur di Jakarta adalah contohnya. Pengadaan wilayah resapan air ini idealnya lebih efektif apabila dapat dilakukan di setiap rumah. Dalam imagi saya, setiap rumah mempunyai kolam penampungan air p x l x t berturut-turut adalah 2 m x 1 m x 0,5 m. selain sebagai kolam resapan air hujan, kolam ini juga menjaga suplai air tanah supaya tidak lekas hilang ke laut. Desain kolam resapan ini bisa menjadi satu dengan taman mini.
Namun melihat kenyataan mahalnya harga tanah dan kebiasaan yang menjadikan halaman menjadi berbeton, idealisasi ini kurang memungkinkan. Jika kolam resapan ini dalam bentuk seperti proyek kanal timur Jakarta, agaknya juga jauh dari ideal karena kota yang sangat luas hanya memilki dua kanal saja. Yang lebih memungkinkan adalah membangun kolam resapan ini di wilayah yang lebih kecil. Yaitu membangun kolam resapan ini di tiap desa atau kelurahan dengan dimensi yang menyesuaikan. Selain sebagai resapan air, juga dapat digabungkan dengan konsep fasilitas umum seperti taman atau hutan desa. Bukankah menarik mempunyai ruang bersama di wilayah desa sehingga anak-anak kita tidak perlu menghabiskan waktunya di mall-mall, di café-café atau harus ke alun-alun kota kabupaten hanya untuk bermain-main bersama teman-temannya.<
Saya bukan ahli tata ruang (desa) tapi penduduk satu desa membeli lahan sekian meter persegi dan digunakan sebagai sarana fasilitas umum bersama akan jauh lebih ringan dibandingkan dengan setiap rumah menyediakan sekian meter untuk menyediakan sekian meter persegi untuk kolam resapan. Bukankah banjir ini masalah kita bersama?
What’s next?
Tentu saja perbaikan lingku
ngan, system irigasi dan tata ruang juga harus diperbaiki. Banjir juga membawa kesadaran bahwa padi yang kita tanam saat ini masih butuh untuk dikembangkan lagi. Bukan hanya bagaimana membuat padi yang tahan hama, cepat panennya saja. Akan tetapi juga padi yang tahan terhadap air yang melimpah (banjir). Padi yang tidak mudah roboh.
Padi mirip dengan jenis ilalang, baik yang hidup di padang rumput maupun yang hidup di rawa-rawa. Revolusi teknologi telah berhasil menciptakan padi gogo-jenis padi yang dapat tumbuh dengan jumlah air yang terbatas. Padi ini biasanya ditanam di lading mapun di lereng perbukitan yang gersang. Dan sudah saatnya teknolgi juga menciptakan padi yang tahan terhadap air yang melimpah, tahan laksana ilalang yang tumbuh di rawa-rawa. Secara sederhana, padi ini merupakan ilalang rawa-rawa yang berbulir padi.
Bisakah engkau bayangkan dan jadikan nyata semua ini?







Di sini saya sempat mendukung program pemerintah, memilah sampah dari sumbernya. Saya mengajak beberapa kawan untuk memisahkan sampah kering dan basah. Kemudian sampah basah, diproses lebih lanjut menjadi kompos cair. Prosesnya sangat sederhana, hanya memisahkan sampah. That’s all.
Peralatan tersedia. Semua tinggal mak plung.
Tapi belum berhasil. Ternyata yang paling sulit adalah mengedukasi orangnya. Dan di proses ini saya gagal.
terimakasih cak tono,
memang persoalan mengubah cara pikir yang berujung pada tata cara dan tingkah laku bukan persoalanudah. untuk kasus anda, saya lebih suka menggunakan pendekatan ekonomis saja. artinya setelah sampah terpilah dan terkumpul, kompos terbentuk, mau dikemanakan? sudah adalah tengkulak atau user yang bakal membeli dan memanfaatkannya?
di rumah saya, untuk sampah-sampah plastik yang punya nilai jual seperti gelas2 aqua, botol2 plastik dan kaca, kardus2 dan beberapa yang lain kini sudah tidak dibuang lagi, hal ini karena secara berkala sudah ada pemulung “langganan” yang mampir (membelinya). memang jumlahnya tidak besar untuk setiap itemnya, tapi bisa buat bantu pemulung tetap dapat makan
jadi, mungkin ada baiknya jika semua lini pasca sampah terpisah sudah siap. maklum, namanya juga masih membangun kesadaran. dengan SEDIKIT usaha memilah, ada penghargaan bagi mereka.
Nah, hemat saya membuat kanal-kanal kecil dalam tiap entitas masyarakat adalah karena banjir ini tidak dapat diatasi secara individu seperti halnya sampah. jadi?
saya paling gemes sama plastik, kresek dan sodara2 nya. saya nggak pernah capek ngingetin orang buat menyelamatkan permukaan bumi dari sampah bernama kresek….sayang ga banyak yang sadar…sediiiihhh…
padahal kalo satu sampah bernama kresek ini bisa di manage dengan baik, banyak bencana yang bisa kita cegah.
-__________-
lha yo opo cak haris? akedemisi wis gak duwe ilmune maneh ta? nek pean pesimis opo maneh aku,,,,,,,,,,