Tersenyum… saat aku ikut tahlilan ini, jadi inget saat-saat masih di surabaya dan kampung halamanku di pulau seberang, pengalaman pertama tahlilan di Jakarta, di daerah cipinang muara, Jakarta Timur, 5 rumah sebelah barat tempatku. Seperti biasa yang dibaca :
1. Al-fatihah :
Seluruh ajaran samawi terangkum dalam 4 kitab:Taurat, Zabur, Injil dan Alquran; dari ke-4 kitab tsb terangkum dalam Alqur’an, Inti dari Alqur’an ada dalam surat Al-Fatihah, Inti dari Al-fatihah adalah di ayat : “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”. Kalau kita ambil kesimpulan, inti ajaran samawi (ajaran langit, Allah) adalah agar manusia ber-”Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in” : hanya padamu aku menyembah dan hanya padamu aku memohon pertolongan.
2. Yasin :
beberapa pokok isinya berkaitan dg orang meninggal : bukti2 adanya hari berbangkit, surga dam sifat2nya yg disediakan bagi orag mukmin, badan manusia menjadi saksi di hari kiamat atas segala perbuatannya.
3. Alif lam mim :
ttg al-quran, ttg keimanan terhadap yg ghoib,kriteria orang bertaqwa.
4 ayat kursi :
tentang Allah
5. aamanarrosulu..
6. Qulhu dst
7. alfalaq
8. an nas
9. sholawat kepada Nabi SAW
10. Tasbih
11. Tahmid
12. Tahlil..
13. ditutup doa, kepada yg meninggal, kelurga yang ditinggalkan, ayah ibu kita dan semua muslimin muslimat.
sungguh indah dunia ini… kalau semua orang saling peduli dan saling mendoakan, walaupun hati ini juga heran kepada orang2 yang menganggap tahlilan ini bid’ah ,terlarang… katanya karena tak pernah dilakukan Nabi. Padahal Nabi tak pernah sholat pake baju koko, tak pernah ke mesjid naik sepeda motor, kl gitu sholat pake baju koko bid’ah dunk, ke mesjid naik sepeda motor bid’ah dunk….dan sesuatu yang baru itu belum tentu terlarang, ah sudahlah… biarlah …???… kafilah tetap berlalu.
Kalau mau realistis, banyak maslahah (manfaat) dari tahlilan, di antaranya :
- Sebagai wujud “waladun sholih” (anak sholih) yang mendoakan orangtuanya.
- Sebagai wujud kepedulian sosial terhadap sesama, khususnya tetangga.
- Sebagai wahana silaturrahmi, berkumpul, dengan tetangga-tetangga.
- Memupuk ketaqwaan, keimanan terhadap yang ghoib… semua yg dibaca merupakan kalam-kalam Allah, adakah yang salah???
di jaman yang katanya serba nafsi-nafsi ini, tahlilan dg paham esensi, maksud dan tujuannya perlu digalakkan. setujukah anda????
referensi hukum ttg tidak HARAMnya Tahlilan:
http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=8834
http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=11262







welgedewelbeh
Mulut pernah dengar alasan lain kenapa tahlilan, tidak disukai oleh kelompok tertentu. Secara umum, sepertinya tahlilan itu dianggap terlalu memberatkan bagi pihak penyelenggara, buat yang memang mampu jelas tidak masalah, tetapi buat yang tidak mampu mereka berpikir akan membawa masalah, terutama dalam hal konsumsinya, mengingat tahlilan sering kali sudah dianggap suatu keharusan, sehingga biasanya terpaksa harus hutang sana dan sini dll hanya untuk menyelenggarakannya. Bagaimana mas pendapat sampeyan dengan pendapat yang seperti itu ? thxb4
Nah.. itu dia masalahnya… kurangnya pengertian dan pemahaman dari tujuan tahlil itu sendiri,baik yg akan menyelenggarakan ataupun nantinya yg akan mengikuti tahlilan, sehingga seharusnya tidak perlu adanya “keterpakasaan”.
penyelenggara tidak wajib memberikan “suguhan”, dan yg lain, tidak menganggap remeh dengan tidak adanya suguhan atau suguhan seadanya… karena sifatnya membantu (mendoakan)
meskipun perempuan, dulu saya sering ikutan tahlil, soalnya waktu itu tidak ada lelaki di rumah, mbah ngarit, bapak kerja, terus ya saya yang ikutan tahlil. tapi sekarang udah nggak lagi, malu….
Assalaamu ‘alaikum Cak Ri, mudah-mudahan njenengan sehat wal afiat.
Ya, sebagai nahdhiyyin -yang insya Allah- tulen, saya menilai bahwa tahlilan masuk ke dalam wilayah ‘Uruf atau kebiasaan yang baik, sehingga tidak tepat jika kemudian tradisi tahlilan dipandang sebagai bentuk bid’ah dalam ibadah. Karena konteksnya bukan dalam kerangka ibadah mahdhah. Bukankah ada kaidah hukum yang menyatakan bahwa suatu tradisi atau kebiasaan yang baik, selama tradisi atau kebiaasaan yang -dipandang- baik itu tidak bertentangan dengan asas syar’i, maka ia dipandang baik pula oleh syara’.
wa’alaikum salam Gus ram… syukron lidu`a-ik.. mudah2an njenengan sekeluarga sehat walafiat jg.
Wah… pencerahan baru nih… ttg kaidah hukum, mudah2an banyak pembaca semakin mengerti… Amin…
Bedakan antara ibadah dan aktifitas sehari-hari yang di luar ibadah. Kalau itu urusan ibadah maka semua dilarang kecuali yang dicontohkan. Kalau itu urusan kehidupan dunia, semua itu dibolehkan kecuali yang dilarang. Nah prinsip ini bisa menjawab tentang kenapa sebagian menganggap tahlilan itu dilarang. Coba kenapa hari2 yang dipilih dalam tahlilan hari ke-1, terus hari ke-sekian mengikuti tradisi agama dan kepercayaan lain yang dulu sudah ‘dihilangkan’ para Wali sanga.
menurut sy, yg melarang itu karena dia terlalu kaku memahami dan mengamalkan ajaran agama, terlalu tekstual, dan kehati-hatian yang tak terarah.
kalau ibadah mahdhoh semua sdh jelas, tapi kalau TAHLILAN itu hanya sebuah “syiar” Islam. yg namanya syiar apapun bentuknya sepanjang tidak melanggar dari aturan dasar maka itu diperbolehkan.
metode dakwah para walisanga bukan menghilangkan tapi mengarahkan ke rule yg sesuai ajaran tauhid. masalah hari ke 1 s/d 7, kalau kita ibaratkan isu, dia masih “hangat”, memori, rasa ditinggal (bagi keluarga) terhadap almarhum masih melekat kuat, sehingga dijadikan momen utk menambah keimanan dg mengingatkan pd kematian, dg membaca bacaan yang beberapa telah dijabarkan di atas.
Angka dalam beribadah adalah sebuah METODE, sebagaimana pernah disabdakan bahwa Nabi beristighfar sehari minimal 70 kali, ad yg bilang 100kali. angka tersebut agr bisa dijadikan standart minimal, kl lebih banyak ya tentu lebih bagus. thx
mas mau nanya
masalah sholat sunnah kobliyah jum’at
tolong donk di jelaskan
utk sholat qobliyah jumat, sebgai pengganti sholat dluhur, maka sunnah rawatibnya mengikuti sholat yg digantikan, diqiyaskan terhadap sholat dluhur
alhamdulillah,insy sbntar lagi 1011 dpt anggota baru,tanpa pengkaderan”MAPABA”,(mksh kbr’e mas,stdk’e pean mbukti’in bhw 35 adlh bangsa perantau-guyon lho mas-),sy pingin mbahas ttg Tahlilan,jum’atan,yasinan dkk(yang skrg ini bs bersifat rutinitas,new culture,arena show of class social,dll),knp qt msh berkutat mbhs ttg gesekan buday (
boleh ndk sich tu tahlilan,eh-ktny bid’ah lho,harraom tuh,ma’eme gmn,ato biasanya d kampng sy sll da yg tanya”ni tahlilan kok ndak da rokok’e” ).
ana pny angan2 gmn kalo dlm tahlilan&jum’atan,umat islam membuat suatu kurikulum yang telah ditata,khususny buat jum’atan(biar ceramhnya terarah and biar jum’atan ndak d jadiin ajang istirahat,ngelamun,ngelepas penat,tidur,yang semuanya berorentasi pada pemenuhan kewajiban belaka),untuk tahlilan,meskipun di tahlilan tidak musti ada ceramahnya,but nowadays,bnyak kampung2 da biasa men-schedule agenda tahlilan dlm satu tahun(tahlilan rutin tiap kamis),mereka dah men-jadwal mulai dr penceramah&tempat,(kalo jadwal menu insy blm ada ),tapi blm pernah saya meliat tentang pembuatan syllabus dlm tahlilan,for instance:
1.materi dalam 1tahun.
2.sasaran atau TUK(tolak ukur kefahaman).
3.Sistem anggota.
dari situ arti dari penggemblengan masyarakat atau penggembalaan umat,silaturrohmi (ringkasnya seluruh point yang di tulis mas ansori diatas )lebih bs qt dapet.
kulo pernah usul dumateng sesepuh wonten kampung kulo mas,kurang lebih beliau menjawab:
-kadose radi angel niku dek,matur dumateng kiai/ust niku sungkan(jawae).ad jg yg blg:
-lok besa chong,sapa seng ngocak dateng kiainah.
bahkan saya berangan-angan,khusus untuk jum’atan yang dimasjid banyak danae,ceramah diadakan sambil nampilin sesuatu di projector(tu slh satu usul dari segi teknis),yang intinya bkn umat lbh mudeng tentang agama,fakta mengatakan berapa org islm yg faham tentang tetek mbengeknya fiqih,sarjana sekelipun,jangankan muluk2,do’a2 dlm sholat pun di kampus sy banyak yang gemratul,coba adakan survey tentang pertanyaan2 simple sktr wudhu,tajwid,haid,istinja’,tayamum,dll,di jamin Tuhan pun pasti kecewa.kalo menurut pean adakah cara yang apropriate untuk nanemin niali2&ajaran islam?,mato seklangkong mas before.
hmmmmmmm……..
terkadang untuk memcapai kebaikan di butukan pengorbanan yang banyak. ini seperti misalkan pengorbanan orang tua untuk menyekolakan anaknya sampai berhutang kesana kemari.
itu sebenarnya untuk kebaikan anaknya dan merupakan salah satu wujud sayangnya orang tua kepad kita.
Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) memutuskan bahwa selamatan kenduri kematian setelah hari wafat, hari ketiga, ketujuh dll adalah : MAKRUH, RATAPAN TERLARANG, BID’AH TERCELA (BID’AH MADZMUMAH), OCEHAN ORANG-ORANG BODOH.
Berikut apa yang tertulis pada keputusan itu :
MUKTAMAR I NAHDLATUL ULAMA (NU)
KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926
TENTANG
KELUARGA MAYIT MENYEDIAKAN MAKAN KEPADA PENTAKZIAH
MUKTAMAR I NAHDLATUL ULAMA (NU)
KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926 TENTANG KELUARGA MAYIT MENYEDIAKAN MAKAN KEPADA PENTAKZIAH
TANYA :
Bagaimana hukumnya keluarga mayat menyediakan makanan untuk hidangan kepada mereka yang datang berta’ziah pada hari wafatnya atau hari-hari berikutnya, dengan maksud bersedekah untuk mayat tersebut? Apakah keluarga memperoleh pahala sedekah tersebut?
JAWAB :
Menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh itu hukumnya MAKRUH, apabila harus dengan cara berkumpul bersama-sama dan pada hari-hari tertentu, sedang hukum makruh tersebut tidak menghilangkan pahala itu.
KETERANGAN :
Dalam kitab I’anatut Thalibin Kitabul Janaiz:
“MAKRUH hukumnya bagi keluarga mayit ikut duduk bersama orang-orang yang sengaja dihimpun untuk berta’ziyah dan membuatkan makanan bagi mereka, sesuai dengan hadits riwayat Ahmad dari Jarir bin Abdullah al Bajali yang berkata: ”kami menganggap berkumpul di (rumah keluarga) mayit dengan menyuguhi makanan pada mereka, setelah si mayit dikubur, itu sebagai bagian dari RATAPAN ( YANG DILARANG ).”
Dalam kitab Al Fatawa Al Kubra disebutkan :
“Beliau ditanya semoga Allah mengembalikan barokah-Nya kepada kita. Bagaimanakah tentang hewan yang disembelih dan dimasak kemudian dibawa di belakang mayit menuju kuburan untuk disedekahkan ke para penggali kubur saja, dan tentang yang dilakukan pada hari ketiga kematian dalam bentuk penyediaan makanan untuk para fakir dan yang lain, dan demikian halnya yang dilakukan pada hari ketujuh, serta yang dilakukan pada genap sebulan dengan pemberian roti yang diedarkan ke rumah-rumah wanita yang menghadiri proses ta’ziyah jenazah.
Mereka melakukan semua itu tujuannya hanya sekedar melaksanakan kebiasaan penduduk setempat sehingga bagi yang tidak mau melakukannya akan dibenci oleh mereka dan ia akan merasa diacuhkan. Kalau mereka melaksanakan adat tersebut dan bersedekah tidak bertujuan (pahala) akhirat, maka bagaimana hukumnya, boleh atau tidak? Apakah harta yang telah ditasarufkan, atas keingnan ahli waris itu masih ikut dibagi/dihitung dalam pembagian tirkah/harta warisan, walau sebagian ahli waris yang lain tidak senang pentasarufan sebagaian tirkah bertujuan sebagai sedekah bagi si mayit selama satu bulan berjalan dari kematiannya. Sebab, tradisi demikian, menurut anggapan masyarakat harus dilaksanakan seperti “wajib”, bagaimana hukumnya.”
Beliau menjawab bahwa semua yang dilakukan sebagaimana yang ditanyakan di atas termasuk BID’AH YANG TERCELA tetapi tidak sampai haram (alias makruh), kecuali (bisa haram) jika prosesi penghormatan pada mayit di rumah ahli warisnya itu bertujuan untuk “meratapi” atau memuji secara berlebihan (rastsa’).
Dalam melakukan prosesi tersebut, ia harus bertujuan untuk menangkal “OCEHAN” ORANG-ORANG BODOH (yaitu orang-orang yang punya adat kebiasaan menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh, dst-penj.), agar mereka tidak menodai kehormatan dirinya, gara-gara ia tidak mau melakukan prosesi penghormatan di atas. Dengan sikap demikian, diharapkan ia mendapatkan pahala setara dengan realisasi perintah Nabi terhadap seseorang yang batal (karena hadast) shalatnya untuk menutup hidungnya dengan tangan (seakan-akan hidungnya keluar darah). Ini demi untuk menjaga kehormatan dirinya, jika ia berbuat di luar kebiasaan masyarakat.
Tirkah tidak boleh diambil / dikurangi seperti kasus di atas. Sebab tirkah yang belum dibagikan mutlak harus disterilkan jika terdapat ahli waris yang majrur ilahi. Walaupun ahli warisnya sudah pandai-pandai, tetapi sebagian dari mereka tidak rela (jika tirkah itu digunakan sebelum dibagi kepada ahli waris).
SELESAI, KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926
REFERENSI : Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Hukum Islam, Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004 M), halaman 15-17), Pengantar: Rais ‘Am PBNU, DR.KH.MA Sahal Mahfudh, Penerbit Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Jawa Timur dan Khalista, cet.III, Pebruari 2007.
CATATAN : Madzhab Syafi’i berpendapat bahwa bacaan atau amalan yang pahalanya dikirimkan/dihadiahkan kepada mayit adalah tidak dapat sampai kepada si mayit. Lihat: Imam an-Nawawi dalam Syarah Muslim 1 : 90 dan Takmilatul Majmu’ Syarah Muhadzab 10:426, Fatawa al-Kubro (al-Haitsami) 2:9, Hamisy al-Umm (Imam Muzani) 7:269, al-Jamal (Imam al-Khozin) 4:236, Tafsir Jalalain 2:19 Tafsir Ibnu Katsir ttg QS. An-Najm : 39, dll.
Ass, ust….saya bingung menurut ust tadi yg satu bilang tahlilalan itu urf…ust yg satu cara pandang seperti wali sango….apa kita ikut wali songo atau rasul..bingung saya…terus kali tahlilan itu urf dan syiar islam kok yahudi juga “tahlilan”……saya lihat diyoutube linknya saya kasih deh
http://www.youtube.com/watch?v=2IcL-wXarjA
http://www.youtube.com/watch?v=JTBZ7TpUKqY
http://www.youtube.com/watch?v=IdR8syVMNgE
sementara saya dengar ust ceramah dimesjid waktu saya tanya ikut2an perayaan org kristen dia marah dan dia bilang rasul sangat melarang kita ikut2 cara orang kafir…dan wali songo nggak pernah melarang ust..gimana itu?
yg paling sedih bagi saya, ketika teman saya mengadakan 100 hari ust..ia orang susah dan ia berkerja sebagai kuli rantau dibatam dgn pendapatan paling 200 ribu dan dikirim sama neneknya lalu diadakan acara 100 hari oleh neneknya..padahal neneknya utk makan dalam satu hari itu belum tentu…
dan belum lagi ust tau gimana keadaan masyrakat kita kalau mendatangi sebuah acara…jika acara itu tidak memenuhi perasaannya seperti kebiasaan ia mendatangi orang2 besar..maka acaranya tersebut menjadi bahan celaan dan umpatan oleh masyrakat…saya sangat kasihan dengan teman saya dan neneknya….apa ada solusi…atau hadist yg bisa ust berikan sama saya utk disampaikan pada teman saya agar dia terhibur… terima kasih ust..