Oleh : Ahmad Mughni (sugabus@gmail.com)*
Bung Karno berkata : bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya.
OK itu semua benar, tapi berdasarkan fakta sejarah, telah terbukti bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menulis. Lihatlah bangsa Yunani dan Romawi, dia dianggap bangsa besar karena peninggalan tulisan-tulisannya yang memuat kebijakan, ilmu pengetahuan maupun seni bangsanya. Demikian juga bangsa Mesir yang meninggalkan tulisan serupa di batu-batu dan dinding piramid untuk di baca generasi-generasi berikutnya.
Kesulitan kita sebagai bangsa indonesia adalah, sebagian besar dari kita malas sekali menulis, apakah itu menuliskan idenya, menuliskan kegelisahan hatinya ataupun mengumumkan pendapatnya ke ruang publik melalui tulisan. Padahal jaman telah berubah, orang tidak lagi perlu membawa pahat dan palu untuk menulis di atas batu, kulit pohon, kulit binatang ataupun daun lontar, orang tidak perlu lagi untuk membawa buah pikirannya tersebut ke penerbit atau ke surat kabar untuk membagi idenya kepada publik atau berkorespondensi melalui kantor pos dimana kita harus membayar prangkonya.
Mengacu pada kuatnya tradisi lisan dan sedikitnya tulisan-tulisan bangsa kita menyebabkan para sejarawan kesulitan sekali merekonstruksi sejarah bangsa yang berdiam di Nusadwipa terutama sebelum masa Kutai dan Sriwijaya. Sekarang ini, setelah 60 tahun menyatakan kemerdekaannya, kalau mentalitas generasi mudanya masih malas menulis dan mengajukan pendapatnya di muka publik, sampai berapa millenium lagi bangsa kita akan berbicara dalam sejarah dunia?. Janganlah hal ini dijadikan apologi bahwa bangsa kita masihlah terlalu muda untuk maju. Bandingkan hal ini dengan bangsa Cina, Jepang, Korea, India, Iran, Mongolia, Mesir, Ras Arab, Jerman, Irlandia, Rusia, Bangsa rumpun Anglo Saxon, Italy, Israel dll yang kesemuanya merasa merupakan bagian besar dari penyumbang sejarah dunia. Mereka mempunyai huruf mereka sendiri, mereka menggunakan bahasa mereka sendiri dan mereka menulis dari jaman ke jaman.
Padahal, dari hasil beberapa penelusuran sejarah (meskipun sifatnya masih sangat hipotetik) telah terbukti bahwa bangsa kita juga merupakan bangsa yang besar, telah eksis dan dikenal sejak sebelum 2000 tahun silam. Namun demikian, kebesaran bangsa ini tidak banyak disadari oleh bangsa Indonesia sendiri ataupun menarik perhatian berbagai bangsa lain karena minimnya dokumentasi yang mencatatnya.
200 tahun yang lalu, demi untuk dapat membaca dan bersekolah, Kartini harus susah-susah membujuk orang tuanya dan melawan tradisi yang telah berusia ribuan tahun. Demi menyampaikan kegelisahan dan kesusahan hatinya dia harus rela menunggu sampai berminggu-minggu atau berbulan-bulan hingga surat-suratnya bisa sampai ke Jakarta ataupun negeri Belanda, dan masih harus menunggu beberapa minggu atau bulan lagi untuk bisa menerima balasannya. 1200 tahun yang lalu raja Sriwijaya berkirim surat kepada Sultan Muawiah untuk mengajak bekerja sama, dan beberapa tahun kemudian kepada Umar bin Abdul Aziz untuk meminta dikirimi seorang alim yang bisa mengajarinya tentang Islam.
Adalah juga fakta sejarah bahwa massa renaissan yang mengentaskan bangsa Eropa dari jaman kegelapan adalah disebabkan karena mereka mau membaca tulisan. Begitu juga dengan jaman keemasan Islam dimana karya intelektual diserap dan disebarkan dari dan ke seluruh penjuru dunia melalui media yang bernama tulisan (meskipun di sini juga ada unsur penyebaran ilmu melalui tradisi lisan melalui perantaraan guru). Dan kalau kita mau mawas sejarah, kemerdekaan bangsa kita juga terinspirasi oleh kabar-kabar kemenangan sebagian kecil bangsa Asia atas bangsa kulit putih yang juga diperoleh melalui tulisan. Lebih jauh lagi, perintah pertama yang diturunkan kepada Muhammad SAW adalah Iqro’– Bacalah –, di mana kata ini secara tersirat menghendaki adanya obyek untuk dibaca yakni tulisan.
Semua yang telah kami sebutkan di atas merupakan bukti nyata bahwa tulisan adalah sebuah kekuatan. Membaca, sebagai konsekuensi logis dari “tulisan” adalah sesuatu yang sangat penting dan memiliki peran yang sentral dalam kehidupan manusia, begitu pula dengan tulisan (renungkan kembali mengapa perintah pertama Tuhan kepada manusia adalah “BACALAH”). Tidak akan ada aktifitas membaca jika tidak ada tulisan. Sebuah tulisan bisa memicu perubahan-perubahan besar, dan memang telah terbukti demikianlah adanya sepanjang sejarah. Ia bisa membangunkan jiwa-jiwa yang terlelap untuk kemudian membuatnya bergerak dan mengubah dunia. Kalau kekuatan sebuah tulisan dikatakan demikian dahsyatnya, maka menulis seharusnya adalah kekuatan yang sangat penting. Bayangkan betapa kuatnya sebuah bangsa dimana menulis sudah menjadi tradisi sehari-hari.
Ingat pak Karno, dan Pak Hatta, Tan Malaka dll, tidak saja mereka terampil membakar semangat kaumnya dengan bahasa lisan mereka, akan tetapi puluhan judul buku telah mereka tulis demi bangsanya. Adakah generasi kita juga telah mengalami kemunduran padahal sebagian besar kita telah mengenayam bangku kuliah ?, apakah kita kembali ke jaman di mana orang nggak mau mengemukakan pendapatnya ?, apakah kita masih akan menyalahkan Belanda yang telah memformat ulang alam bawah sadar kita sebagai bangsa kuli ?
Kalau ada yang mencoba menyangkal pernyataan judul tulisan ini dengan mengajukan contoh kasus bangsa Jepang dan mengatakan bahwa bangsa Jepang itu bukan bangsa yang terbuka dalam hal menyampaikan pendapat, mereka sangat tertutup bahkan sangat menjaga sopan santun dalam berdebat, akan tetapi mereka bisa menjadi bangsa yang maju !!. Anda salah besar, bangsa Jepang adalah bangsa yang paling demen menulis, meskipun hampir tidak dengan gaya mengkritik seseorang. Bangsa Jepang adalah bangsa yang sangat suka sharing pengalaman, misalkan pengalaman melahirkan, mendirikan rumah, membeli rumah, membangun kolam renang, memilih suami, merawat bunga, dan lain sebagainya. Hal-hal kecil yang sering kita anggap sepele, mereka dokumentasikan dan publikasikan ke ruang publik. Jangan dipikir kalau yang menulis tersebut adalah para penulis ternama, tidak mereka adalah pelajar sekolah dasar, mereka adalah para ibu rumah tangga dan kebanyakan mereka adalah orang biasa.
Ayo teman-teman para blogger Indonesia, buktikan kita tidak hanya pinter ngomong tapi juga bisa dan mau menulis. Berbicara itu tradisi masyarakat agraris, dimana sebagian besar bangsa kita masih berkultur demikian. Karena itu skill berbasis tradisi lisan ini juga masih penting untuk kita pelajari untuk efektifitas pemberdayaan bangsa. Akan tetapi laju perjalanan waktu yang konstan sudah dilampaui oleh laju capaian-capaian intelektual dan teknologi. Ini semua tidak cukup hanya dicover oleh tradisi lisan, di sinilah tulisan menemukan relevansinya yang utama. Masyarakat intelektual itu bertradisi tulisan, memproduksi dan mengkonsumsi tulisan, menulis dan sekaligus membaca.
Membaca belum tentu menulis.
Sedangkan kalau kita menulis, pasti kita membaca.
Artikel terkait
1. Bangun Budaya Baca Tulis Dengan Blog
*) Master of Engineering Management Student
The University of Melbourne Australia






ahaaa.. nikmatnya ungkapan artikel ini.. setidaknya menyemangati saya untuk bisa menjembatani ide2 ulama untuk dituliskan.. *halah* salam kenal wong NU kabeh tah?
a nice article..
baca dan tulis emang penting cak…
termasuk program menghapus kebodohan (jare kyai)
Alhamdulillah… Saya ingin menjadi bagian dari yang suka membaca dan menulis.. Omong2, beneer ya bangsa kita ini budaya dasarnya hanya mendengar dan melihat.. ? hehehehehe
ini postingan yang mencerahkan banget, ikut melakukan sebuah perubahan dan sekaligus menyebarkan “virus” menulis. sepakat bangut. mudah2an saja tulisan ini dibaca oleh semua anak bangsa yang sudah lama dikenal sbg bangsa yang malas membaca, apalagi menulis!
[...] *) Dicomot saja dari sini [...]
siipp..cak..!!,
bikin..getaran jiwa ini ingin menumpahkan coretan-coretan…
entah itu racauan, gumaman.. ato apalah namanya yang penting ‘ide-ide’ ini gak sabar untuk di muncratkan…
he..hee..iseng-iseng niy cak, ada gak ya..”alat pembaca otak yang langsung bisa menterjemahkan dalam bentuk tulisan”… ya..kali ini bisa bantu kita dalam hal tulis menulis…,
hidup..menulis..!!!
yuk, mulai b’cerita dengan tulisan…
salam..
‘a’ lg b’crita
Salam, mas mughni…
Lama tak bersua, masih ingatkah kau ? he he he
Ada hal yang harus saya sampaikan pada publik, bahwa dulu mughni pernah mengusulkan untuk meng-up grade metodologi Bakti Kampus ITS 1999 dengan menggunakan Game, simulasi, outbound yang lebih ‘cerdas’, tidak hanya bentak-bentakkan saja. Namun di forum SC, usul tersebut ditolak mentah-mentah oleh SC yang lain, termasuk saya.
Waktu terus bergulir, dan sejarah kembali membuktikan bahwa ternyata ‘omongan’ orang cerdas memang ditolak diawalnya namun terbukti di belakang hari kemudian.
He, hee, sorry my friend, ternyata engkau benar… SEKARANG ini ospek di universitas2 di Indonesia banyak yang pakai game, simulasi outbound seperti yang mughni usulkan.
satu kosong deh !
Best Regard,
eko andi suryo
Note: titip salam ke temen2 ya, semoga INDONESIA EMAS segera tercapai ! bebas korupsi tentunya.