Oleh:Teguh Rachmanto
email address: teguh_r@asiamail.com
“20 Oktober lalu Polsek Wonokromo mengamankan bayi yang ditemukan di depan rumah nomor 57 Jl Wonokromo. Bayi laki-laki itu tergeletak di atas rombong milik PKL. Kholifah (55), adalah orang pertama yang mendapati keberadaannya sekitar pukul 19.45 WIB. Entah siapa yang membuang, disamping bayi bersanding dua tas berisi pakaian, selimut, bedak dan kelengkapan mandi dan popok. Saat ditemukan panjang tubuhnya 60 cm dan berat badannya 3 kg, hidung mancung berkulit sawo matang.” www.dutamasyarakat.com
Sore itu iseng-iseng saya memasukkan kata kunci “ bayi yang dibuang di surabaya” di google search. Hasilnya luarbiasa!!!! Ada 2.060 link yang bisa diklik untuk mendapatkan berita sejenis. Bisa dibayangkan bila “surabaya” dalam kata kunci itu diganti dengan “jakarta”, “bandung”, “semarang”, atau “Indonesia”. Bisa-bisa angkanya menembus puluhan ribu link. Saya hanya menyempatkan membuka satu link yang kebetulan TKP nya ada di dekat rumah saya, Jl Wonokromo 57.
Setiap orang yang punya hati nurani pasti trenyuh setelah membaca berita sejenis. Kok bisa-bisanya anak kandung sendiri dibuang di pinggir jalan. Apa nggak kasihan tuh ortunya. Bunda Maria saja yang melahirkan anak tanpa bapak masih berjuan mati-matian mempertahankan buah hatinya. Lha ini, bocah yang jelas-jelas hasil kerjasama yang baik antara ayah-ibunya kok malah dibuang di pinggir jalan.
Tapi jangan habiskan dulu perasaan trenyuh anda. Ke depan akan masih banyak lagi tragedi pembuangan bayi-bayi tak berdosa oleh orang tua kandungnya sendiri. Masyarakat kita sudah melakukan proses kaderisasi yang sedemikian sempurna untuk menghasilkan generasi-generasi biadab seperti itu. Pengen tau?
Coba aja masuk warnet. Lihat sekeliling anda berapa banyak anak usia sekolahan yang tertawa cekikikan dengan mata melotot melihat monitor di depannya. Nggak usah didekati untuk mengetahui apa yang sedang terjadi disana. Cukup hadapi saja monitor anda sendiri. Klak-klik saja folder secara acak insya allah anda akan mengetahui apa gerangan yang menjadi bahan tertawaan anak-anak tadi. Bahkan sekarang lebih canggih. Mereka sudah bisa mengendalikan diri. Tidak lagi canggung berhadapan dengan gambar-gambar porno, adegan mesum. Ketrampilan itu didapat lewat latihan rutin sepulang sekolah dengan meluangkan 1-2 jam saja. Nggak mahal,kok! Cuma 5000 perak. Pantesan aja mereka jadi lebih cool, calm, and confident dalam waktu singkat.
Suatu hari saya melihat dengan mata kepala sendiri sebuah adegan mesum yang melibatkan dua anak sekolahan berlainan jenis , berseragam pula, di sebuah warnet. Gila! Si perempuan “menduduki” teman laki-lakiya sambil menghadap monitor di depannya. Si perempuan dengan semangat aktif-transitif bergerak naik turun sedangkan si laki-laki sibuk memecah konsentrasi antara memegang mouse dan “menghadapi” suguhan dihadapannya.
Generasi macam inilah yang saya maksud dengan generasi 3gp. Disebut begitu karena hobinya mengkonsumsi file-file dengan extension 3gp. Bahkan yang lebih parah lagi sudah ada yang kepikiran untuk memproduksi dan mendistribusikannya. Generasi 3gp memenuhi kepalanya dengan beragam konsep seksualitas seperti : doggy style, three some, oral sex, ejakulasi, 69, french kiss, orgasme, G-spot, dsb, yang mungkin jauh mereka fahami dibandingkan guru-guru biologi mereka sekalipun.
Kondisi ini sungguh kontras dengan tragedi pembuangan bayi yang mengawali tulisan ini. Sungguh, seksualitas memang bukan barang tabu lagi. Semua harus tau tugas pokok dan fungsi dari alat kelamin masing-masing. Namun itu bukan berarti eksplorasi tanpa batas atas gairah sensualitas diperkenankan. Sebab, aktivitas seksual yang tak terkendali mengandung resiko, kehamilan. Banyak remaja yang belum siap menghadapi resiko tersebut. Atau ada pula yang secara oportunistik menyiasatinya dengan “ keluarkan aja di luar”, “dioral aja dech” sehingga wajarlah bila laki-laki melihat perempuan hanya sebagai “alat pengeluar spema” .Sebaliknya perempuan melihat laki-laki tidak lebih dari “stick getar” yang mendatangkan kenikmatan. Sungguh, bila hal-hal beginian yang terus-terusan berputar di pusat kesadaran generasi kita bisa diprediksikan secara statistik berapa banyak bayi lagi yang akan jadi korban?







Sungguh memprihatinkan…!!naudzubillah jika nanti bahkan terjadi generasi X.mpeg layar lebar, artinya film gituan sudah ditonton di theater2 pribadi komunitas-komunis yang ada di masyarakat, karena sudah sama -sama biasa dan sudah jadi public consumption.
goblok banget sih yang laki-laki, kok dia sibuk sampek pecah konsentrasi antara memegang mouse dan “menghadapi” suguhan dihadapannya, kenapa gak sekali mendayung, 2 pulau terlampaui aja….
Klik Kanan pakek mouse (untuk menampilkan menu-menu khusus), klik kiri (eksekusi) pakek tombol yang tengah….. (: hehehe
di satu sisi, informasi seputar seks gencar dikampanyekan buat membendung penyebaran HIV. di sisi lain, ada pesan tersirat bahwa seks itu bisa aman. tapi kalo sudah kebelet, keamanan bisa nomor sekian.
aliranpokoknya nyaman… hmmm… kebetulan saya punya anak perempuan. membaca berita seperti itu saya hanya bisa berharap perlindungan bagi anak saya oleh Tuhan.Saya sangat prihatin dengan kondisi semacam ini. Moralitas generasi kita terus digerogoti karena kurangnya kearifan dalam memanfaatkan teknologi. Kesadaran orangtua juga sangat rendah dalam mempersiapkan benteng akhlak bagi anak-anaknya.
@zicky:
soal teknologi memang membedakan perilaku seksual remaja. Yang bodo bisa menghabiskan waktu berjam-jam di internet untuk surfing, downloading aneka “file seksual” kesukaan. Bagi yang pinter, cukup dengan satu kalimat : Ada yang baru, nggak? Update, dong!!!!!
@sitijenang:
saya setuju dengan sex education. kyai-kyai di pesantren dulu “melokalisir” pembicaraan seputar sex hanya bagi yang sudah dianggap dewasa dengan membahas kitab”uquddulijain”. Dahsyatnya, buku ini tidak melulu soal sex. Ada “konstruksi agung” tentang keluarga sakinah, mawaddah, warahmah yang coba ditawarkan pada para santri.Nah, konstruksi agung seperti inilah yang tidak dapat kita temui dalam sinetron, film, komik, ato buku2 kita akhir-akhir ini.
Taruhlah buku “best seller” semacam Jakarta Underground karyanya Moammar Emka dkk.Setelah membacanya kita bisa mengajukan pertanyaan sederhana: Maksudnya apa sich????
@ram-ram muhammad:
Saat ini saya belum menikah. Namun melihat kekhawatiran para orang tua saya jadi ragu. Apa bisa ya saya memprotect anak2 saya.
berarti perlu mengupayakan untuk memberi rambu-rambu soal ‘konstruksi agung’ ini, tapi secara umum, bukan mengacu ke norma agama tertentu saja. bisa dibilang sebuah ‘konstruksi sastra’ yang selanjutnya diajarkan di kampus-kampus. kalo di kultur Jawa jaman mataram Islam kan ada pakem untuk karya sastra. jadi, ada parameter untuk mengukur apakah sebuah karya bisa dikategorikan manfaat atau mudarat dari kacamata umum (kultur Jawa). masuk akal gak sih?
Harus itu. Masak suatu masyarakat kok tidak mempunyai “parameter” apapun. Lihat saja bangsa kita ini, yang kudungan mlipit sampai cuman keduanya matanya semakin banyak tapi yang “bertelanjang ria” juga nggak kurang. Demokratis? menurut saya bukan. Kondisi ini Istilahnya cak Arif : tidak punya nilai, krisis identitas. Inilah problem yang harus kita selesaikan. Secara pribadi kita bisa memiliki nilai-nilai individual yang berakar dari agama, budaya, dsb. Namun ketika bergaul di tengah-tengah masyarakat harus ada yang namanya public decency, kepantasan publik, yang disepakati.
Kalau mencegah HIV dengan pagar moral, nggak bakal ada untungnya bagi yang punya modal. Tapi kalau dengan menggunakan kondom dan produk tertentu, pastinya lebih menguntungkan banyak pemilik modal, mulai pemilik produk fashion, film, tempat hiburan +++, sampai pabrik alat kontrasepsi. Jadi, secara implisit mereka bilang “silakan bermain sebebas-bebasnya, akan kami fasilitasi semua asal pakai produk kami”. Dan dengan berbagai alasan, sepertinya dunia sedang digiring menuju ke sana.