Sebagai orang udik yang terpaksa hidup di kota besar seperti Jakarta, saya sering dibuat kagum oleh sekian banyak hal. Contoh sederhana, betapa saya sangat heran melihat betapa kompaknya pengemudi di jalan raya dalam hal membunyikan klakson. Kalau sampeyan mengamati suasana di perempatan rawasari sekitar jam lima sore, rasanya sampeyan akan mengurungkan niat untuk mengambil kreditan kendaraan bermotor, beroda dua atau lebih.
Atau hal sederhana lainnya. Pengalaman sewaktu pertama kali naik metro mini, seseorang berusia sekitar 25 tahunan, berkata jujur di depan seluruh penumpang, bahwa dia sedang tidak punya uang, dan bisa melakukan apa saja untuk mendapatkannya. Tapi dia memilih cara baik-baik, yaitu dengan meminta terus terang, tanpa ada kekerasan fisik.
Butuh waktu seminggu untuk memahami mengapa trotoar di depan kantor tempat saya mengais nasi plesternya terkikis di banyak tempat, dan beberapa bongkah paving tergeletak tidak beraturan. Dan Tuhan menjawab pertanyaan saya dengan hujan, deras sekali, sampai trotoar itu tenggelam setinggi hampir setengah meter.
Yang menarik lagi bagi saya adalah kebiasaan orang-orang Jakarta untuk macet. Bukan hal yang menarik bagi sebagian besar orang, memang. Saat saya masih di kota kecil bernama Surabaya, saya tidak pernah membayangkan akan tahan berjam-jam terjebak di tengah kemacetan luar biasa seperti itu. Untuk keperluan yang hanya satu jam, saya harus menghabiskan waktu seharian penuh, berderet dalam antrian panjang kendaraan bermotor. Bila dibandingkan, kita bisa menempuh Surabaya – Nganjuk pergi – pulang dalam waktu yang sama dengan yang kita habiskan dengan merangkak (dengan mobil, tentunya) dalam kemacetan seperti itu.
Tapi yang sangat membuat saya terpana adalah bagaimana orang-orang (kaya) di Jakarta bisa mengorganisir diri sedemikian rupa dalam menentang proyek busway. Sekitar empat – lima minggu lalu media massa kita dipenuhi oleh penolakan sebagian warga Jakarta terhadap busway. Bayangkan, setiap program berita di setiap stasiun televisi menyiarkan secara langsung ‘adegan’ macet yang memang sudah luar biasa itu, dengan latar belakang pembangunan jalur busway yang belum selesai. Ini masih ditambah dengan wawancara dengan pengguna jalan, yang tentu saja kemudian berkeluh kesah tentang kemacetan tersebut. Pengguna jalan yang dimaksud, tentu saja adalah orang-orang dengan kendaraan pribadi, yang seharusnya bisa membawa empat – lima orang penumpang, tapi lebih suka sendirian saja.
Bayangkan!!
Mana yang sebenarnya bikin macet : jalur busway, atau mobil-mobil, yang konon kalau diparkir seri bisa memanjang mulai Jakarta sampai Banyuwangi, kemudian kembali ke barat lewat selatan sampai di Blitar tersebut.
Entah bagaimana caranya, orang-orang ini bisa memaksa DPR untuk turun tangan, membuat gubernur jadi bulan-bulanan, sampai presiden pun ikut ribut. Padahal dalam waktu yang hampir bersamaan, Jakarta ribut dengan kasus terbakarnya kolong tol, yang diteruskan dengan penggusuran. Belum lagi pembongkaran paksa salah satu rusun, yang mengakibatkan puluhan keluarga tergusur juga. Belum lagi ancaman banjir, yang saat tulisan ini diketik ancaman itu sudah terbukti dan memaksa ratusan keluarga menjadi pengungsi.
Sebagai orang udik, rasanya saya seperti menghadapkan cermin pada Jakarta, dan melihat bayangannya sebagai Indonesia. Carut marut Jakarta seperti mewakili apa yang terjadi di Indonesia secara keseluruhan. Bencana alam yang kita rancang sendiri dan kita tak pernah belajar darinya, kekerasan psikologis yang kita anggap sebagai kewajaran, kejahatan struktural yang berlangsung berlapis-lapis, sampai perselingkuhan pemilik modal dan kekuasaan.
Sebagai orang udik yang juga orang Indonesia, saya berdoa semoga saya tidak hanya bisa ngresulo…







Selamat tono ….. semoga ditiru oleh sahabat-sahabat yang lain.
Waduh…. serem banget kehidupan Jakarta ya!!!, Andai Jakarta koyok di Situbondo?!?Kota Kelahiranku… Pastinya Tentrem paling (:
Ya serem banget. Yang membuat saya terkesan dari tulisan tono dengan “t” kecil adalah klakson. 2 minggu di dunia lain, belum terdengar klakson sekalipun, meskipun di jalan raya.
Selamat buat klakson …eh, tono…
Sebuah tulisan yang sangat menggugah, puitis.
Lima jempol buat tono!
Aq yakin Cak Tono masih menyimpan sebuah rahasia, yang diam-diam tak diungkapkan lewat tulisan ini, yang justru merupakan puncak keresahannya saat menghayati Jakarta….
Jujur ae Cak….
Di Jakarta pean ga’ iso ngopi, sebagaimana suasana, cara, nuansa, harga, dan rasa ngopi di Wargres Keputih….
Nggih mboten???
@ uzi_oi :
Tidak bisa nyruput kopi memang bagi saya merupakan sebuah keresahan besar. Tapi yang lebih dalam lagi adalah, tidak bisa nyruput kopi wayahe lingsir wengi, yang kita semua belum bisa nendro.
@abinuha :
cak, kita semua nunggu oleh2 sampean dari “dunia lain” (baca : jepang)..
@ziex :
wah zik, apa artinya sampean sedang merencanakan revolusi, kemudian mindah ibukota ke Situbondo???