Orang banyak bilang jangan seperti katak dalam tempurung, orang-orang bijak berkata perluas cakrawalamu, bahkan nabi malah (secara tersirat) mengajurkan umatnya untuk berhijrah, berkelana ke negeri-negeri lain. Namun sebelum penulis merasakan sendiri bagaimana rasanya tinggal di negeri orang lain, nasehat-nasehat di atas hanyalah deretan kata yang manfaatnya hanya ada di alam ide. Tidak mampu memunculkan Inspirasi sehingga tidak ada tindakan pro-aktif yang akan dilakukan. Berbeda saat penulis sudah menghirup “atmosfer” kehidupan bangsa lain secara langsung, wawasan pun bertambah, cakrawala pun semakin luas terbentang, ide-ide tak terpikirkan pun deras memenuhi isi kepala, tak sabar untuk dituangkan satu pe-satu.
Salah satu ide yang paling keras menuntut untuk ditelurkan adalah soal solusi masalah pengangguran Indonesia. Ide ini datang setelah penulis mengamati perbedaan mencolok keadaan employment di sini dan di Indonesia. Kalau di Indonesia jutaan orang pada berebut beberapa gelintir lowongan pekerjaan, di sini, asal mau saja bekerja, maka pekerjaan pasti sudah menanti. Kalau di Indonesia kelebihan tenaga kerja, di sini malah kekurangan tenaga kerja (bahkan di beberapa state lain, ada istilah kerja yang cari orang bukan orang yang mencari kerja).
Sebagai informasi, saat habis Perang Dunia II, pemerintah Australia mengundang siapa saja untuk menjadi warga negaranya ……… bahkan dijanjikan tanah-tanah gratis, itulah mengapa banyak migran dari eropa barat maupun timur, serta orang-orang timur tengah banyak bermigrasi ke Australia pada masa-masa itu. Sampai saat ini, karena kekurangan tenaga kerja, Australia masih menerapkan kebijakan membuka diri pada tenaga kerja asing, meskipun tidak selebar masa-masa setelah PD II tersebut. Untuk menjalankan perekonomian Australia, mereka masih kekurangan tenaga kerja, angka pengangguran cukup kecil.
Nah kembali lagi soal employment, Perbedaan yang lain adalah soal dukungan pemerintah ke pada para pencari kerja. Ribuan dollar dikeluarkan pemerintah untuk mendorong warganya bekerja. Orang yang belum dapat pekerjaan, tetapi bisa menunjukkan bukti kalau terus mencari kerja, orang tersebut akan diberi tunjangan hidup oleh pemerintah. Drop-outan sekolah tapi pingin kerja, disediakan tunjangan dana yang cukup besar per orang untuk keperluan kursus keterampilan bersertifikat. Selain itu instansi-instansi pemerintah yang mengurusi soal tenaga kerja ini (dalam hal ini dikoordinasikan oleh centerlink) sangat pro aktif dan serius mencarikan pekerjaan buat warga negara yang sudah mendaftar kepada mereka. Setiap pertanyaan, ataupun klaim dari warga akan ditindak lanjuti dengan serius. Semua sistem dikelola secara canggih dan integral dengan memanfaatkan teknologi informasi.
Selain itu, yang sangat mencolok adalah penghargaan terhadap karyawan. Di tempat kita, jangankan kuli bangunan, tukang cleaning service atau baby sitter, lha wong supervisor atau bahkan kepala unit rendahan saja sering tidak dihargai dan bahkan diperlakukan sewenang-wenang oleh atasannya, atau masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Selain penghargaan terhadap “derajat” pekerjaan yang rendah secara non material, di Indonesia penghargaan secara material juga sangat minim. Di sini semua jenis pekerjaan (tentu saja dengan mengecualikan pekerjaan sebagai pencuri ataupun kriminal lainnya he he he) tidak dianggap hina, yang tukang sapu halaman, baby sitter, buruh pabrik, kuli pasar seperti saya, atau bahkan kuli bangunan (yang terakhir ini, jika bersertifikat, gajinya bisa mengalahkan gaji seorang manager toko malahan). Soal gaji, waaaah jangan dibandingkan …… jauh mannnn.
Sebagai gambaran, gaji seorang pekerja cleaning service rata-rata adalah AUD 15 /hou, misalkan dia bekerja 7 jam sehari dan 5 hari seminggu maka penghasilan dia selama satu bulan adalah = 15 x 7 x 5 x 4 = AUD 2,100. Kalau dirupiahkan dengan kurs AUD 1 = Rp 7.500 maka gaji per bulan tukang cleaning di sini adalah Rp 15.750.000,- nah besar kan?. Ini belum ngomong pekerjaan yang bersertifikat dan sangat dibutuhkan di sini misalkan nurse, hairdresser, cook dan tukang bangunan, gaji mereka sekitar 2-5 kali lipat dari gaji cleaner yang saya gambarkan di atas.
Nah berangkat dari beberapa fakta tersebut, serta keprihatinan mendalam pada masalah TKI dan TKW indonesia di berbagai negara lain, saya mengajukan gagasan ini. Sambil membangun perekonomian dalam negeri, mengapa pemerintah tidak memanfaatkan kekurangan tenaga kerja di negara maju seperti ini. Alih-alih mengirimkan tenaga kerja ke negara-negara kelas tiga seperti Malaysia, Hongkong ataupun Timur tengah, mengapa pemerintah tidak berkonsentrasi mendorong dan memfasilitasi warganya untuk bekerja di Australia (atau negara-negara maju lain — saya kira kekurangan tenaga kerja ini juga dialami oleh banyak negara maju lainnya).
Secara teknis, pemerintah seharusnya menjajagi dan membangun kerjasama dengan pemerintah Australia dalam hal tenaga kerja. Dirikan balai-balai pelatihan dengan standar sertifikasi yang diakui di Australia, didik calon tenaga kerja sebelum berangkat ke Australia, bekali dengan misi nasionalisme dan moralitas (perlu diingat ….karena banyak godaan di Australia), ikat tenaga kerja yang diberangkatkan itu dengan kontrak yang jelas (misalkan soal lama masa kerja dan besarnya cicilan biaya pendidikan dan pemberangkatan) kemudian bina semua tenaga kerja yang diberangkatkan itu selama bekerja di Australia agar tidak malah bikin masalah tapi membawa kebaikan (misalkan diharuskan untuk tinggal di Asrama tenaga kerja Indonesia de el el).
Saya kira total biaya yang dibutuhkan untuk mewujudkan hal ini tidaklah terlalu besar dibanding dengan manfaat yang bisa diraih. Efek yang bisa diharapkan adalah, tenaga kerja nganggur di Indonesia terserap, tingkat penghasilan secara umum meningkat de el el. Para tenaga kerja yang diberangkatkan itu diharapkan mampu menjadi tulang punggung perekonomian keluarganya, mampu menyekolahkan adik-adik dan kerabatnya dengan pendidikan yang memadai, dan pada gilirannya akan meningkatkan perekonomian bangsa kita secara umum.
Coba bandingkan dengan rata-rata gaji TKI/TKW kasar yang ada saat ini, yang menurut pengamatan penulis hanya sekitar 2-5 juta setiap bulannya, sudah termasuk potong sana-sini oleh PJTKI ataupun agennya di LN. Sudah gitu kehormatan tidak diraih, menjadi pembantu di negara kelas tiga, bahkan di Malaysia TKI kita dianggap sebagai biang onar, di timur tengah TKI kita dianggap sebagai ‘budak’. Kalau kita mau membuka peluang baru sebagai supplier tenaga kerja di negara kelas satu (maju), di mana hukum tenaga kerja sudah ditegakkan serta bargaining kaum buruh juga sangat tinggi, maka hak-kewajiban buruh dilindungi oleh undang-undang. Pada gilirannya, kehormatan bangsa tidak kita korbankan. Kita bisa berkata bahwa bangsa kita adalah pekerja profesional, bukan orang yang meminta-minta dikasihani karena tidak ada lapangan kerja di negeri sendiri.
Kalaupun para calon tenaga kerja itu harus membayar selama menjalani masa pendidikan dan training di Indonesia, saya kira banyak yang tidak akan keberatan. Mengingat fenomena orang rela bayar puluhan juta hanya untuk menjadi pembantu di Malaysia ataupun timur tengah. Akan tetapi seyogyanya pemerintah memprioritaskan orang-orang yang miskin, tidak mampu secara ekonomi tapi memiliki moral yang baik, dan mau bekerja secara profesional sebagai tenaga kerja yang memiliki skill. Soal biaya pendidikan dan kursus bisa dicicilkan dari gaji yang didapat. Meski biaya hidup cukup tinggi di Australia, dengan hidup sederhana dan penyediaan asrama tenaga kerja di Australia oleh pemerintah saya yakin pendapatan mereka (meski telah dikurangi uang cicilan) akan lebih tinggi dari TKI/TKW kita yang saat ini sedang menderita di Malaysia atau timur tengah.
Menurut penulis, sudah saatnya pemerintah kita turun tangan dalam hal ini. Jangan semuanya diserahkan pada PJTKI yang tidak memiliki wawasan kebangsaan dan nasionalisme itu. Mereka itu mikirnya murni bisnis, dimana ada uang bisa didapat menjual saudaranya sendiri ke mulut buaya pun mereka akan tega. Dengan pendekatan baru ini, semoga nantinya tidak ada lagi TKI/TKW yang jadi pembantu rumah tangga dan terhina di negara-negara kelas tiga itu. Kalau bisa, secara perlahan-lahan, kita tarik semua TKI/TKW yang jadi pembantu rumah tangga di Malaysia … biar tahu rasa mereka. Kemudian salurkan ke negara-negara kelas satu …. jadi tenaga kerja profesional.
==============================
NB : Sebagai tambahan informasi, saat ini banyak employer di Australia yang prefer tenaga kerja Indonesia, karena orang indonesia itu attitude kerjanya lebih baik daripada orang India atau China yang sudah lebih dahulu membanjiri negara ini. Kebanyakan pekerja indonesia itu adalah PR/student yang nyambi kerja seperti saya.







perlu juga tuh dikasih training buat warga kita ttg enterpreneurship…soalnya sekaya apapun TKI yang pada akhirnya pulang, hartanya akan amblas dalam hitungan yang cepat (dibeliin barang, bangun rumah, tampil kaya sesaat…tetapi kere lagi kemudian karena bingung cr kerja lagi, mau berangkat keluar negeri lagi sibuk cari hutangan buat ngurus2 pasport dll.). lain jika wawasan berwira usaha diakarkuatkan dalam pemikiran ekonomi masyarakat. bayangan saya uang hasil kerja di luar negeri (kan mesti banyak ya) bisa dibuat modal terus usaha itu nyerap banyak tenaga kerja. tapi ya itu mental masyarakat harus “diracuni” agar gak exist sesaat stlh pulang dr luar negeri, habis itu kere lagi…kere lagi…
Semoga ndak kere lagi deh…
~marhamah~
Cak, secara umum saya setuju dengan gagasan tersebut. Tapi ada satu kenyataan pahit yang harus kita terima. Mahasiswa2 terbaik kita yang terserap oleh perusahaan2 asing masih sering merasa inferior berhadapan dengan “bule” di tempat kerjanya. (saya punya adik kelas yang nekat “resign” gara2 sering didamprat sama supervisornya yang bule)
Coba bayangin, yang S-1, S-2 aja inferior apalagi cuman tenaga “profesional” bersertifikat. memang soal harga diri bangsa tidak bisa diselesaikan lewat pendekatan upah belaka. Tapi sebagai langkah awal, kayaknya menarik juga…….
@ teguh
Masalahnya ya itu guh … karena kita berada dalam realitas kita di indonesia. Coba keluar “tempurung” masuk ke realitas yang lain, bule di sini pada terbiasa menghargai orang ….. memandang orang sama dan sederajat, bosku di pasar nggak pernah marah, apalagi mbentak-mbentak kita, para kulinya, padahal aku sering telat datang kerjanya ….. bilang sorry, dia bilang it’s ok. he he he
Di sisi lain, para employer di sini ketakutan setengah mati dengan berbagai UU tenaga kerja. Yang EEO (equal employment opportunity) lah, yang perlindungan dari pelecehan seksual, yang soal gaji, yang soal employer-employee relationship …… semuanya ada aturannya …. melanggar … ati-ati aja digugat dan rugi banyak di pengadilan.
Meski begitu, petugas yang mengawasi bidang perburuhan di sini kayaknya masih ada beberapa yang mau uang sogok
Salam kenal,
ini kunjungan pertama saya
Karena isinya tentang perlakuan pemerintah RI terhadap buruh migran, jadi kayaknya aku belum bisa banyak comment dulu,
harus atur hati dan emosi dulu
maf ssekali lagi maaf
Pengalaman aku di Qatar
Tenaga profesional kita sudah mulai banyak mengisi di perminyakan, tapi sektor lain belum. mungkin prosentasenya cuma 5%.
kekurangan mendasar dari tenaga ahli dari Indonesia ada Skill komunikasinya kurang, jangan bahasa Arab atau Prancis (Standar tim-teng), bahasa Inggris aja kacau habis.
rata-rata setelah kerja 1-2 thun mereka baru lancar.
coba bandingkan dengan tenaga kerja Philipina atau India bahkan bangladesh, yang sangat lancar ber cas-cis-cus english, bahkan ada guyonan dari rekan kantor aku orang pilipin, bahwa bahasa inggrisnya TKW Srilanka masih lebih baik daripada “bachelor” Indonesia.
Benar apa tidak?
jujur ajalah
IYAAA
Coba kita dulu dijajahnya sama inggris? tentu beda jadinya… hehehe…
Bukan hanya masalah inferioritas dari pribadi, tapi hampir di semua perusahaan, baik persh lokal lebih2 persh asing, pribumi memang diperlakukan/dikondisikan untuk menjadi inferior, walaupun skill lebih tinggi dari pegawai asing/ekspatriat. Terlihat dari jauhnya gaji dan fasilitas yang diberikan.
Makanya.. bikin perusahaan lokal sendiri….;))
@ amamaali
Terimakasih atas kunjungan dan komennya ….apa sampe begitu parahnya (rasa ngenes dan nelangsa sampeyan?) … sampe-2 ngasih komen saja njenengan harus atur ati dan emosi … tapi yang namanya muslim ya selalu atur ati dalam ngelakuin apapun kan …. mmmhm
@ Ansori
Kita dijajah nggak pernah minta an, malah seharusnya …. coba mereka nggak pernah mampu menjajah kita … harusnya kan gitu …. ini malah menyesali karena nggak dijajah inggris (padahal kita juga pernah dijajah inggris) Malah … menurutku hasil jajahan inggris nggak ada yang bener .. tengok saja Malaysia dan India .. meski mereka saat ini lebih kaya dari kita …. tapi tatanan sosialnya jauh lebih kacau.
welgedewelbeh
Iya nih, kita harus memandang ke depan dong :p
kekeke…
kita tidak boleh berpikir sempit, konteks orang dalam bertutur kata bisa jadi berkonotasi negatif, akan tetapi tidak selama mengarah begitu. Tidak baik serta merta mengiyakan omongan orang lain…. tanpa ada filter… (loh kok jadi serius)
sendainya tidak ada penjajah bisa jadi kita masih seperti suku badui, suku tengger, dan masih banyak suku2 yang lain yang masih terkungkung. Atau bisa jadi sebaliknya. karena semua adalah sesuatu yg telah berlalu. diapa2in jg takkan berubah, apalagi cm dibayangin. pisss…..
Ayo kita menyatukan ide, tekad dan semangat menuju kebangkitan Bangsa Iindonesia yang hijau makmur..!!!
Pernah ada yang denger istilah “blaming the victims”?. Iya itulah yang terjadi pada hampir semua pembicaraan tentang “negara dunia ketiga”, “negara miskin”, “negara selatan”.
Sudah miskin, sengsara, dianggap rendah, diremehkan namun tidak ada usaha pembelaan yang pantas bahkan dari bangsa sendiri.
Salahnya sendiri siapa suruh nggak kuliah, salah sendiri siapa suruh kerja diluar negeri? salah sendiri siapa suruh jualan di pinggir jalan? salah sendiri siapa suruh jadi tukang becak? dan seterusnya.
So, apa mentalitas seperti ini mau diteruskan? How far can you go, babe!!!!!
welgedewelbeh
4 Ansori
Wah ga tahu sejarah ni mas ansori, baca to bukune Anand krishna ( Indonesia Jaya ), tanpa dijajah pun bangsa kita pernah maju bung…., he…he
4 Teguh98
Maksude opo kui gak paham…… hubunganya dengan artikel?
Artikel dgn Ide yang sangat menarik. Sebenarnya pernah juga kepikir semacam ini. Kendala di Indo, adalah rendahnya kualitas pendidikan. Bahkan Univ. top yang bergensi di Indo, belum diakui standarnya oleh Australia dan negara maju lainnya. jadi lulusan Indo, tidak bisa langsung kerja.
Ide untuk membuat akademi/ balai pendidikan dgn standar Australia, sangat baik. Tapi lagi2 ada kendala dengan waktu sekolah yang lama. Tau sendiri orang Indo, ngak sabar kalau belajar, maunya yang instant. Wong TKW yg dididik 3 bulan aja banyak yang kabur.
Satu lagi kendala yang paling besar adalah pemerintah dan oknum pejabatnya mental proyek. Kalau tidak ada untung buat kantong pribadi, ngapain mikirin penganguran indo?
PJTKI makanya lebih prefer supply ke negara kelas 3 (istilah anda), karena bisa mudah untuk “main mata”
Kalau negara maju seperti Australia yang hukumnya jelas dan ngak bisa main2, berarti celah dapet untung ngak ada dong.
Jadi solusinya yang harus dicari dengan ide anda, harus dibuat celah/peluang bisnis baik bagi PJTKI, Institusi Pendidikan, Depnaker, Depdiknas, dan sekaligus perwakilan di Aussie sana. Kira2 bagaimana caranya, pasti anda lebih tahu
…peace.
Sungguh luar biasa pemikiran anda. Saat ini saya yang sedang kuliah S2 di ITB kebetulan sedang berpartisipasi dalam interclass debat. Dan saya kebagian topik untuk mendukung agar pengiriman TKI tidak dihentikan.
Kalau saya telusuri dari pihak disnaker hingga ke TKI nya langsung. Mereka (TKI) benar-benar pahlawan, mereka bisa menghasilkan devisa yg lebih besar dari PAD daerahnya masing-masing.
Namun apa yang mereka terima? karena ulah PJTKI yang tidak bertanggung jawab, banyak sekali nasih TKI yang terlantar. Karena ulah pemerintah yang tidak disiplin, banyak sekali kasus pemerasan mulai dari Bandara hingga ojek ke kampung halamannya.
Mereka malah merasakan kenyamanan di luar negeri sana. Hati saya meringis melihat seorang pahlawan yang tidak dihargai di negeri sendirinya, tapi ternyata malah lebih dihargai di negara asing.
Itu mungkin contoh nasib baik TKI di luar negeri, namun bagaimana dengan yang sial mendapat majikan yang buruk di luar negeri sana? apakah mereka mendapat support yang layak? yang saya dengar langsung malah mereka dipersulit dengan pungutan liar yang terjadi. Kalo mau mengadu saja mesti punya duit, mesti kemana mereka mendapatkan bantuan???
Tolong siapapun yang bersangkutan perhatikan, mereka telah menyumbang devisa yang sangat besar buat kita. Jangan jejali lagi mereka dengan masalah. Karena memang terbukti Devisa TKI melebihi migas dan minyak bumi. DAN ini merupakan salah satu penopang ekonomi bangsa. Bantulah mereka, maka anda membantu negara anda untuk lebih maju.
buat yangki
Memang bangsa kita ini sering mandeg gara-gara ketakutan dengan bayangan kita sendiri. Terus suka memandang diri sendiri dengan pandangan yang sangat pesimis.
Ide ini sebenarnya sudah ada yang mewujudkan, sekolah perawat dengan standar Australia, guru-guru didatangkan dari sono, segala standar sekolah perawat tersebut memenuhi standar australia. Pihak manajemen sekolah sebelumnya telah mengadakan kontak dengan beberapa rumah sakit di sana, jadinya ya pasti berangkat. Sayangnya …. sekolah ini adalah murni bisnis, tidak ada maksud untuk meningkatkan derajat nasional kita.
Jadi saran saja nih mas, daftar panjang kejelekan diri sendiri yang keterlaluan itu, jangan menjadikan kita mandeg. …….. Kritis harus, pesimis no way. Anyway … terimakasih telah urun rembug.
Buat Ricky
Ya kalau ide ini disounding terus-menerus …. apalagi dari mahasiswa S2 PTN ternama seperti anda. Mungkin nantinya akan lebih cepat terealisasi. …. Thx telah mampir dan semoga sukses debatnya.
welgedewelbeh
Nah ini ada peluang bagi yang ingin kerja di Canada
http://kompas.com/read/xml/2008/11/25/1706199/tembus.kanada.tki.digaji.rp.18.juta
Silahkan dilacak sendiri nama PJTKI-nya
Ass. wr. wb.
Saudaraku…,
Lama aku tidak silaturrahim dg saudaraku.
Tulisan saudaraku tersebut seharusnya benar-benar membuka wacana baru bagi pemerintah kita. Semoga saja berita ini didengar oleh pengambil kebijakan di negeri kita dan segera bisa diimplementasikan di lapangan.
Wassalam.
Dari saudara seiman: Imron Kuswandi M. (dosen FT. UTM).
emang pemerintah suka rakyatnya banyak pengangguran dan miskin mulu, supaya pemerintah bisa dapet dana bantuan luar negri!!