Pengumpan:
Tulisan
Komentar

(Menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW)

Oleh : Teguh Rachmanto

al jannatu wana’imuhaa sa’dul limayyusholli wayusallim wayubaarik ‘alaih

[Syurga dan kenikmatannya semoga diperuntukkan bagi siapa saja yang bersholawat dan memohonkan selamat serta berkah atas nabi]

Itu adalah sebuah bait pembuka dalam Maulid Al Barzanjy. Di kampung-kampung tidaklah sulit mencari kelompok yang masih konsisten membacanya hingga kini. Bersama-sama dengan bacaan Maulid yang lain, Maulid Al Barzanjy eksis berdampingan, saling menguatkan, menambah keyakinan dan cinta pada Nabi Muhammad SAW.  Tidak pernah ada klaim mana yang paling shahih dan paling benar. Saya juga tidak pernah diajarkan bahwa  Maulid Al Barzanjy lebih baik dibandingkan Sirah Nabawiyyah ataupun sebaliknya. Lanjut Baca »

Mungkin akhir-akhir ini kita mulai sering mendengar kata panas bumi atau geothermal bahasa  londo-nya. Seperti tergambar dalam istilahnya, panas bumi merupakan sumber energi yang berasal dari sisa-sisa proses penciptaan bumi kira-kira 5 milyar tahun yang lalu. Panas ini terkurung oleh lapisan batuan beku di permukaan bumi yang kita pijak ini. Lapisan batuan beku yaitu batuan yang terbentuk dari pembekuan magma/lava ini begitu efektif menjaga panas yang terbentuk milyaran tahun itu tetap terjaga dalam bentuk batuan cair. Lanjut Baca »

Oleh : Ahmad Irham Fauzi

Hebat benar memang televisi itu. Betapa tidak, momentum kumpul-kumpul pas lebaran kemarin menorehkan memori sangat berkesan bagi saya. Di tengah kehangatan silaturahim melepas rindu, seorang kawan dengan bangga memamerkan kompetensi olah vokal anak perempuannya yang masih berusia 4 tahun. Sambil memegang mic, sang anak dengan pede memulai aksinya, “dasal kau keong lacun, balu kenal uda ngajak tidul….solly solly solly jek, ku bukan cewek mulahaaan”. Sang kawan tersenyum bangga, yang saya sambut dengan senyum di bibir sambil hati miris teriris-iris menjadi berlapis-lapis, untungnya tanpa tangis. Siapa lagi yang mengajari anak kecil itu kalau bukan televisi. Lanjut Baca »

Oleh : Teguh Rachmanto

Sejarah pendidikan formal kita dimulai sejak diberlakukannya Politik Etis di Indonesia. Politik etis di bidang edukasi, sebetulnya, bertujuan menghasilkan tenaga administratif kelas menengah untuk melakukan fungsi-fungsi pemerintahan dan kepentingan bisnis Belanda di Indonesia. Bisa disimpulkan bahwa tujuan pendidikan saat itu tidak ada urusannya dengan kesejahteraan rakyat Indonesia. Anak didik dipintarkan untuk selanjutnya dijadikan sekrup-sekrup kapitalisme lengkap dengan pelumasnya demi kelangsungan imperialisme di Indonesia. Namun apa yang terjadi, sekolah-sekolah saat itu justru menghasilkan pribadi-pribadi tangguh bervisi cemerlang seperti Ir. Soekarno, Drs. Muhammad Hatta, Dr Tjipto mangunkusumo, RA Kartini, Ki Hadjar Dewantoro. Lanjut Baca »

Oleh : Teguh Rachmanto

Sekitar 5-6 tahun yang lalu saya pernah datang ke sebuah pesantren di pedalaman Pasuruan. Waktu itu ada pelatihan bagi para mahasiswa baru ITS yang diselenggarakan sahabat-sahabat PMII. Pesantren menjadi pelabuhan terakhir bagi panitia yang stress karena kekurangan dana.

Syukurlah, sang kyai menerima dengan senang hati. Makan-minum dijamu, kamar istirahat sudah disiapkan, ruang pertemuan untuk diskusi juga sudah tersedia. Semua Gratis, tis tis… “Lho, kok bisa?”, tanyaku dalam hati penasaran.

Rasa penasaran saya terobati ketika acara pembukaan pelatihan dimulai. Sang kyai sebagai tuan rumah memberikan sambutan yang tak terlupakan. Ada tiga pesan utama beliau : Saya Titip Kyai (Kulo Titip Kyai), Saya Titip NU (Kulo Titip NU), Saya Titip Indonesia (Kulo Titip Indonesia). Dalam pikiran sang kyai, para mahasiswa inilah yang akan menangkap spirit modernitas untuk selanjutnya digunakan dalam mengawal para Kyai dalam melestarikan ajaran Islam ahlus sunnah wal jama’ah. Kemudian setelah lulus kuliah mereka diharapkan bisa berjuang bersama-sama kyai dalam wadah NU yang secara konsisten memperjuangkan kemerdekaan dan mempertahankan keutuhan NKRI hingga kini. Lanjut Baca »

Imlek dan Keadilan Sosial

Teguh Rachmanto

Memang sudah diatur dalam hidup ini semua berbeda, Ada yang rendah ada menengah dan ada yang tinggi pangkatnya agar satu sama lain bisa saling memerlukan agar roda kehidupan bisa berputar – berjalan……

Bagi penggemar Bang Haji Rhoma Irama tentu hafal dengan penggalan lagu di atas. Sangat indah bila dibandingkan dengan lagu-lagu yang lagi ngetop saat ini. Namun ternyata susah sekali menerapkan prinsip yang mulia tersebut meski sudah dibalut dengan melodi yang indah.

Suatu ketika saya sedang makan siang di sebuah depot mie terkenal di Surabaya. Di sela-sela menikmati gurihnya mie pangsit yang saya pesan terlihat di sebelah kasir di ujung ruangan ada seorang waitress tertunduk ketakutan dicaci-maki oleh seorang -maaf- tionghoa. Habis-habisan si koko menelanjangi kesalahan waitress itu. Terdengar oleh saya bahwa si koko tersinggung karena tidak segera dilayani. Sebagai pelanggan tetap si koko merasa disepelekan. Saya lihat saja dari kejauhan sambil menunggu kekerasan verbal dan psikis tersebut meningkat menjadi kekerasan fisik atau tidak. Syukurlah, diamnya mbak waitress membuat si koko segera ngeloyor pergi meski terus menggerutu. Yang pasti langkah kakinya diiringi muka bersungut-sungut. Sebelum pulang saya dekati mbak waitress yang sedang shock. Wajahnya pucat pasi, matanya merah menahan jatuhnya air mata sekuat tenaga sambil memaksa diri untuk terus tersenyum. “Sabar ya, mbak!”, kataku menghibur. Lanjut Baca »

Oleh : Teguh Rachmanto

Pada saat gerakan mahasiswa 1998 meletus, Gus Dur dalam kondisi sakit sempat mengeluarkan statemen yang disayangkan banyak pihak. Beliau menghimbau mahasiswa untuk menahan diri di tengah maraknya aksi demonstrasi di jalan-jalan. Sebagai calon mahasiswa baru, saat itu, penulis termasuk diantara sekian banyak pihak yang kecewa terhadap statemen  Gus Dur tersebut.

Baru-baru ini ketika dihelat dialog antara pemuka lintas agama dengan pemerintah terkait “tuduhan” bahwa pemerintah telah berbohong,  posisi KH. Said Agil Siradj ( Ketua PBNU ) dianggap sebagian kalangan sebagai “ulama pro pemerintah” karena Kang Said tidak setuju dengan cara penyampaian kritik pada pemerintah oleh mereka yang mengaku sebagai pemuka agama, ulama khususnya. Kang Said menyitir QS Thohaa ayat 44 : “ maka berbicaralah kamu berdua ( Nabi Musa dan Nabi Harun ) kepadanya ( Fir’aun ) dengan kata-kata yang lemah lembut ( qoulan layyinaa), mudah-mudahan ia ingat atau takut”. Dengan filosofis Kang Said balik bertanya apakah kita sudah sebaik nabi Musa dan nabi Harun?? Apakah SBY memang seburuk Fir’aun?? Sehingga bisa berbicara seenaknya atas nama penderitaan rakyat padahal di saat yang sama mengaku pemuka agama ???? Lanjut Baca »

by Ahmad Mughni on Selasa, Oktober 5, 2010 jam 9:39pm

Mengapa Yang Mulia mas Presiden SBY baru tidak bersedia pergi ke Belanda saat ada gerakan percepatan pengadilan kasus RMS di sana di mana tersangka utamanya adalah sampeyan sendiri. Mengapa dari awal sampeyan bersedia-bersedia saja datang ke Belanda yang salah satu isu pentingnya adalah untuk menerima pengakuan resmi atas kemerdekaan RI dari Belanda.

Kalau mas lupa sejarah, bukankah kita merdeka atas perjuangan sendiri mas. Harganya teramat sangat mahal tak terkira. Harta benda terampas terjarah, air mata dan darah tumpah ruah mengair bah, harga diri ternista, nyawa ratus ribuan rakyat kita dan masih banyak lagi. Lanjut Baca »

Oleh : Teguh Rachmanto

(Pengurus LAKPESDAM NU Cabang Surabaya)

Sejak menyatakan akan membakar Al-Quran, Terry Jones terus menjadi pusat perhatian dunia. Pria 58 tahun ini adalah pendeta di Dove World Outreach Center, sebuah gereja kecil di Gainesville, Florida, Amerika Serikat, sejak 1996. Meskipun akhirnya dibatalkan kontroversi yang diakibatkan dari rencana gila ini masih dapat dirasakan.

Menurut M. Quraish Shihab dalam bukunya Ayat-Ayat Fitna disebutkan bahwa ada 2 tuntunan umum bagi umat Islam saat menghadapi pelecehan terhadap Islam. Pertama, Meningkatkan informasi yang benar serta terus berdakwah menjelaskan ajaran Islam dalam bentuk lisan, tulisan dan tingkah laku sebagai ajaran yang penuh toleransi tanpa mengorbankan akidah dan nilai-nilai Islami dan dalam saat yang sama berpaling/menampakkan tanda-tanda tidak menyetujui sikap lawan-lawan yang melecehkan itu ( lihat QS. Al A’raf [7] : 99 ) & ( lihat QS. Al Hijr [15] : 94 ). Kedua, Menahan emosi agar tidak bertindak dengan tindakan yang dapat merugikan citra umat Islam atau jalannya dakwah ( lihat QS. Ali Imran [3] : 186 ) Lanjut Baca »

Dalam artikel berikut ini, kita akan membuat sebuah program simulasi lampu lalu lintas menggunakan RS Logix 5000.   RSLogix 5000 sendiri merupakan software dari Rockwell Automation yang digunakan untuk programming PLC Allen bradley controllogix, compactlogix, flexlogix.  Seperti kita ketahui PLC banyak digunakan diindustri, untuk itulah pengetahuan tentang PLC sangatlah penting terutama bagi kita yang menekuni bidang automation / instrument / electrical engineering. Dalam artikel ini akan dibahas bagaimana membuat program sebuah lampu lalu lintas. Lanjut Baca »

Tulisan Sebelumnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.