Feeds:
Tulisan
Komentar

Tulisan ini merupakan ungkapan rasa syukur saya yang berlipat-lipat, sehingga saya merasa harus membuang jauh-jauh amarah, mangkel, maupun rasa ketidakberdayaan saya menghadapi arus informasi.

Ya. Arus informasi. Tepatnya arus informasi yang tidak tepat. Lanjut Baca »

Meski beberapa diantaranya diperlukan, Menghadapi Malaysia yang semakin kurang ajar tidaklah cukup hanya dengan demonstrasi,  memulangkan dubes, bikin paten dan memperjuangkan international recognizion dari produk-2 budaya lokal kita. Untuk itu, Indonesia perlu melakukan paling tidak 2 hal besar: (1) Menelisik akar motivasi kekurang-ajaran Malaysia, baik secara politik regional, sosial budaya maupun ekonominya. Untuk itu, Indonesia perlu mengaktifkan operasi inteligen tingkat tinggi ke negara jiran dan kawasan regional Asia Tenggara. (2) Melihat kedalam sanubari bangsa ini guna mencari fundamental berbangsa apa yang terkikis dan apa yang telah hilang sama sekali. Lanjut Baca »

Sepuluhan tahun yang lalu, datanglah ke Pasar Keputih pada malam hari. Dari Jalan Arif Rahman Hakim, masuklah ke Gang II sejauh lebih kurang sepuluh meter. Di sebelah timur gang itu, seorang lelaki setengah tua menjajakan legen sambil selalu mengantuk, bahkan sering tertidur. Mungkin karena kelelahan setelah seharian bekerja sebagai kuli bangunan. Para mahasiswa pelanggannya terkadang harus berjuang untuk membangunkannya sebelum mendapat segelas atau dua gelas legen pelepas dahaga. Selepas itu, mereka juga harus membangunkan kembali untuk membayar. Tidak mahal: cukup 150 rupiah per gelas—belakangan berinflasi menjadi 500 rupiah. Lanjut Baca »

ocrNah… sekarang kan lagi musim-usimnya TA atau Thesis neh.. barangkali aja ada yang belum tahu dan ada yang membutuhkan bantuan software OCR ( Optical Character Recognition ) untuk mengambil teks dari referensi-referensi sahabat. Jadi jika anda punya refrensi berupa buku atau eBook yang berupa file Image (JPEG, BMP, GIF, dll), sedangkan anda butuh mengambil refrensi itu menjadi karakter teks yang bisa di edit di Microsoft Word atawa Open Office, anda tidak perlu mengetiknya kembali sampai-sampai anda kehabisan waktu hanya untuk menyalin, padahal deadline sudah menunggu.

Misalnya kita dapat referensi sebuah buku, daripada kita harus ketik perhalaman dan mengetiknya kembali, mengapa kita tidak scan aja tulisan di buku tersebut menggunakan scanner kemudian kita ubah hasil scan-nan tersebut mejadi teks untuk kita edit di aplikasi Ms. Word, bukankah lebih praktis dan efisien!

OK, biar yang kita gunakan gratis dan halal ^_^, kali ini kita akan gunakan yang freeOCR.

Sayangnya kekurangan dari freeOCR ini yaitu hasil konversinya akan sedikit kacau jika image atau gambar Anda kurang jelas tulisannya, sehingga ketika proses konversi selesai Anda harus memeriksanya lagi untuk mengkoreksi bagian-bagian yang salah. Nah, agar hasil konversi maksimal sebaiknya resolusi image waktu sahabat SCAN bukunya set resolusinya pada 200 Dpi.

Kelemahan lain dari aplikasi freeOCR adalah hasil konversi yang kacau ketika digunakan untuk meng-konvert image teks berformat kolom, sehingga aplikasi ini nggak cocok buat mengkonvert scan-nan koran.

Cara menggunakan Aplikasi FreeOCR ini sangat mudah, klik File/Open kemudian cari file yang ingin kita ubah ( biasanya dalam bentuk JPG) dan edit menjadi teks, kemudian klik menu OCR/Start OCR Process maka proses konversi akan segera dilakukan. Setelah itu simpan atau copy-paste hasil konversi tersebut ke Ms.Word.

Ingat, sebelum menjalankan/Meng-install free ORC, FreeOCR butuh .NET Framework versi 2.0 kalo blm punya silahkan download “DISINI” terlebih dahulu.

Jika anda tertarik menggunakan Software OCR ini, silahkan download gratis DISINI.

Terima Kasih, Semoga TA dan Thesis Sahabat sekalian lancar.. hehehe ^_^

Dalam The Holy Qur’an terbitan Wordsworth Editions Limited (2000), Abdullah Yusuf Ali menerjemahkan Al-Qur’an surat Ar-Ruum ayat 21, ayat yang sangat sering dibacakan waktu mantenan, ke dalam bahasa Inggris sebagai berikut: “Among His Signs is this, that He created for you mates from among yourselves, that ye may dwell in tranquillity with them, and He has put love and mercy between your (hearts): verily, in that are Signs for those who reflect.

Seorang teman mengutip terjemahan di atas pada surat undangan pernikahannya. Mungkin menurutnya kurang afdhol jika sabda Tuhan tidak disertakan. Sebagian besar penerima undangan tak menghiraukan pengutipan ini. Bukankah yang terpenting dalam menyikapi sebuah undangan pernikahan adalah 4W plus 1H : who (siapa), where (di mana), when (kapan), what (apa doa restu yang akan kita sampaikan), dan how much (berapa). Namun ada dua orang perempuan yang memprotes terjemahan di atas. Menurut mereka, kata ganti milik his dan subjek he yang digunakan jelas menunjukkan bahwa Tuhan itu laki-laki. Padahal menurut ajaran yang diridloi, Tuhan itu bukan laki-laki, bukan perempuan, bukan pula bencong.

Orang yang terbiasa dengan Al-Quran terjemahan bahasa Indonesia pasti akan mudah menemukan kedamaian dengan konsep Tuhan tanpa kelamin. Bahasa Indonesia kurang memedulikan jenis kelamin dan jender, kecuali untuk nomina-nomina tertentu yang jumlahnya amat terbatas: putra-putri, wartawan-wartawati, saudara-saudari, dewa-dewi, dan seterusnya. Atas nama kedaulatan pemakai bahasa dan (r)evolusi linguistik, boleh saja ditambahkan: sahabat-sahabati, Ronaldo-Ronaldowati, teman-temin, kawan-kawin, meskipun bentuk-bentuk ini tidak dikenal dalam Ejaan Yang Diridloi.

Sebenarnya bahasa Inggris menyediakan pronomina yang bebas jenis kelamin baik untuk pronomina milik, subjek, maupun objek. Mungkin ini yang hendak diusulkan oleh dua penerima undangan di atas. Maka it atau its bolehlah digunakan untuk terjemahan di atas: “Among Its Signs is this, that It created for you mates from among yourselves, that ye may dwell in tranquillity with them, and It has put love and mercy between your (hearts): verily, in that are Signs for those who reflect.

Namun yang luput dari pertimbangan mereka adalah bahwa penggunaan it atau its bisa melahirkan syirik dan berpotensi melecehkan Tuhan sampai ke ujung kaki. Bukankah untuk mengganti kata cacing, kucing, anjing, gelas, pohon, bakteri, kotoran, dan benda-benda nonpersonal lainnya, bahasa Inggris menggunakan kedua pronomina di atas. Tuhan sama dengan anjing? Astaghfirullah seratus kali, syahadat seribu kali!

Bahasa Arab, bahasa Al-Qur’an, sebenarnya jauh lebih cerewet dari bahasa Inggris dalam membedakan laki-laki atau perempuan, baik secara harfiah maupun hanya kategoris semata. Sampeyan sekalian tentu sudah mafhum sekali dengan hal ini. Dalam bahasa yang konon menjadi bahasa surga ini, nomina (ism), pronomina (dlamir), adjektiva (shifat), atau verba (fi’il) harus jelas menunjukkan atau mengacu kepada ”laki-laki” (mudzakkar) atau ”perempuan” (muannats). Bahkan untuk menyebut ini atau itu saja, harus jelas pula ini atau itunya ”perempuan” atau ”laki-laki”. Haadza atau haadzihi, dzaalika atau tilka. Akibatnya, Tuhan dalam Al-Qur’an ayat di atas atau ayat-ayat lain sangatlah ”laki-laki”, jauh lebih ”laki-laki” daripada bila diterjemahkan dalam bahasa Inggris atau apalagi bahasa Indonesia.

***

Tanpa bahasa, tampaknya manusia mustahil mampu memikirkan sesuatu. Kata Heidegger, bahasa adalah rumah bagi pemikiran. Rumah bisa berarti tempat berteduh dan berlindung yang nyaman. Rumah bisa juga berarti kurungan.

(Tenggilis, 26 Shafar 1430)

ponari2Khasanah budaya Jawa memiliki Ki Ageng Selo, satu-satunya orang yang bisa menangkap petir. Di tangannya petir berubah wujud menjadi ular.

Kini di Jombang hadir Ponari. Setelah petir menyambar, Ki Ageng Ponari mempunyai batu bertuah. Bedanya, kalau ular-petir Ki Ageng Selo disiram air, maka ia langsung loncat ke langit kembali menjadi petir (itulah sebabnya sekarang petir masih menyambar :D ), batu-petir Ponari bila dicelupkan ke air, maka airnya diyakini bisa menyembuhkan segala macam penyakit.

Fenomena Ponari menjadi demikian menarik. Indikasi gampangnya, RCTI dengan Silet-nya telah dengan secara khusus membahas masalah ini, lengkap dengan komentar para selebritis papan atas negeri ini. Ponari dengan batu-petirnya menyihir puluhan ribu orang.

Terlepas dari benar-tidaknya klaim kesembuhan yang ikut digembar-gemborkan oleh media massa kita, atau kekhawatiran para ulama bahwa hal ini akan menjadi syirik, atau protes para dokter yang dagangannya jadi ndak laku, yang menurut saya menarik untuk diamati adalah kemampuan Ponari untuk menerbitkan harapan bagi puluhan ribu orang yang mengantri di desanya. Sampean bisa bayangkan, puluhan ribu orang rela berdesak-desakan, mempertaruhkan nyawa demi kesembuhan via air-batu-petir Ponari. Mirip dengan Ki Ageng Selo yang mengandangkan ular-petirnya di halaman rumahnya, sehingga ramai jadi tontonan. Nah, pada titik ini Ponari perlu belajar pada kecerobohan Ki Ageng Selo, yang membiarkan ada yang memandikan ular-petir, sehingga si ular berubah kembali jadi petir. Ponari perlu perlindungan agar batu-petirnya tidak kehilangan daya magis. Itu pun kalau Ponari memang berniat jadi dukun di sepanjang sisa hidupnya.

Hajatan besar bangsa Indonesia di tahun 2009 ini adalah, tentu saja, pemilu, legislatif maupun presiden. Berkaca pada pilkada Jatim, angka golput mencapai 38%. Bisa dipastikan golput adalah pemenang sesungguhnya dalam pilkada Jatim. Atau pilkada Jateng yang angka golputnya mencapai 45%. Bisa dibayangkan, dana miliaran rupiah yang asalnya dari pembayar pajak yang setia seperti saya dan sampean ini akhirnya menguap di tangan KPU.

Bayangan awam saya, KPU bisa lebih kreatif dalam menyiapkan pemilu. Mumpung masih ada waktu, KPU bisa segera membuat ribuan pamflet, sebarkan di seluruh pelosok jawa timur – jawa tengah. Isi pamflet kira-kira demikian :

„Diumumkan kepada seluruh warga jatim dan jawa tengah, yang sehat, lebih-lebih yang sakit, yang sudah punya hak pilih, agar menggunakan hak pilihnya pada tanggal 9 April 2009. Barangsiapa yang datang ke TPS dan ikut mencontreng, akan mendapat segelas air rendaman batu dari Ponari“

Mumpung belum keduluan partai politik dan caleg yang setiap saat bisa menyerobot kesempatan emas ini.Sebab bisa jadi besok pagi sudah ada selebaran dari caleg seperti ini :

„Kalau saya terpilih menjadi anggota dewan, maka setiap orang dari dapil saya akan mendapat air rendaman batu Ponari. Mari dukung saya agar tercipta masyarakat sehat lahir dan batin“

Wanita Racun Dunia?

Seperti yang mungkin sering Anda dengar, The Changcuters lebih kurang bernyanyi seperti ini:
Racun …racun … racun …
Wanita racun dunia
Karena dia butakan semua
Racun …racun … racun …

Syair pendek di atas diulang-ulang terus dari awal hingga akhir lagu. Lagu ini begitu diminati, tak terkecuali oleh anak-anak. Mereka begitu bersemangat menirukan lagu ini. Di sebuah stasiun televisi, para idola cilik dengan penuh penghayatan menyanyikannya. Semula saya tidak ngreken lagu ini karena memang tidak suka. Namun suatu hari istri saya menyodorkan sebuah penilaian atas lirik lagu ini dan kemudian terus-menerus mendorong saya untuk membuat sebuah tulisan. Lebih dari itu, akhirnya kami bersepakat untuk menghindarkan anak kami dari mendengarkan lagu tersebut.

Menurut lirik lagu ini wanita adalah racun dunia karena ia telah membutakan semua orang. Karena tak memberi batasan apapun, maka menurut lagu ini ibu yang melahirkan kita dengan mempertaruhkan nyawa dan mengasuh kita hingga dewasa adalah racun, istri kita adalah racun, anak perempuan kita adalah racun, perempuan pacar atau bekas pacar atau yang pernah ingin kita pacari tetapi tidak mau adalah racun, teman-teman wanita kita adalah racun. Racun yang tidak mematikan, tetapi bisa membutakan semua orang.
Lanjut Baca »

Oleh : Ahmad Mughni

Hiruk pikuk pro kontra RUU Pornografi yang baru saja disyahkan beberapa hari kemarin menyisakan sebuah pelajaran berharga tentang demokrasi bagi kita semua. Terlepas dari untung rugi disyahkannya RUU tersebut ataupun penerimaan maupun penolakan terhadapnya sepertinya ada sesuatu yang perlu kita ingat kembali yakni:

  1. Kita sepakat bahwa bentuk negara kita adalah republik (kekuasaan di tangan rakyat) (UUD 45 ps. 1 ay.1)
  2. Kita telah sepakat menggunakan demokrasi sebagai filosofi, lembaga dan mekanisme pendelegasian kekuasaan yang (katanya) di tangan rakyat tersebut. (UUD 45 ps. 1-16 ?)

Lanjut Baca »

Setiap musim tanam, petani selalu mengeluhkan langka dan mahalnya harga pupuk. bukan tanpa alasan mereka mengeluh. Karena mereka menyadari bahwa keluhan mereka di musim tanam akan berlanjut hingga musim pasca panen. sebabnya adalah harga jual hasil produk pertanian mereka yang anjlok. seolah sudah menjadi hukum alam bahwa petani Indonesia tidak akan menikmati hasil jerih payahnya.

saat musim tanam, harga gula bisa mencapai Rp. 6000/kg, cabe merah Rp. 12.000,sedangkan pada pasca panen harga gula lelang hanya mencapai Rp. 5000/kg, cabe Rp 20.000/kg.

bahkan pada bulan-bulan mendekati ramadhan dan idul fithri seperti saat ini, lonjakan harganya dapat mencapai 2 kali lipat dari harga normal. cabe saat ini rata-rata Rp. 30 000/kg bahkan di beberapa daerah telah mencapai Rp. 40 000/kg, Harga daging ayam yang sebelumnya Rp 15-17 ribu naik menjadi Rp 22 ribu perkilogram, harga telor ayam sudah mencapai 16.200 rupiah/kg padahal minggu kemarin masih berkisar 12.000 an rupiah/kg sedangkan harga kedelai kuning sebesar Rp7.500/kg naik dari tahun lalu yang hanya Rp4.500/kg, bahkan saat panen raya pernah Rp2.600/kg, sedangkan untuk kedelai hitam saat ini Rp5000/kg dari sebelumnya Rp3600/kg. Lanjut Baca »

Setiap pemilu bakal digelar – baik pemilu legislatif, presiden, maupun daerah – satu kegiatan utama panitia pemilu (baca = Komisi Pemilihan Umum dan Komisi Pemilihan Umum Daerah) adalah membuat calon daftar pemilih. Kegiatan ini- mendaftar calon pemilih – membutuhkan banyak energi dan rentan terhadap konflik, dan tentunya biaya.

Rutinitas yang dilalui dimulai dari pengumpulan data daftar calon pemilih, verifikasi, penetapan calon pemilih, pencetakan kartu/undangan pemilih, distribusi kartu/undangan. Di setiap titik kegiatan ini membutuhkan dukungan finansial yang mapan, kecermatan dan ketelitian, tenaga dan infrastruktur lain yang terkait.

Bukan tidak jarang alias seringkali kerja panitia pemilu yang nggoyo seperti ini banyak lubang. Selalu saja terdapat sekian persen penduduk yang tidak terdaftar dalam calon daftar pemilih. Sekian persen data tidak valid karena calon pemilih tidak memenuhi syarat dan kehilangan hak pilihnya (di bawah umur, meninggal, gila dll). Jumlahnya di setiap daerah yang menyelenggarakan pilkada variatif. Agaknya kurang disadari juga bahwa masyarakat kita telah bergeser dari masyarakat yang bertempat tinggal dan bekerja dalam satu daerah (traditional) dan sehingga mempunyai catatan administrasi setempat menjadi masyarakat yang tinggal di daerah tertentu dan bekerja di daerah yang lain (urban) dengan catatan administratif di lain tempat. Kegiatan pencatatan daftar calon pemilih yang bermuara pada penetapan daftar pemilih seringkali tidak efektif karena mengandalkan pada petugas pencacatan dan verifikator. Lanjut Baca »

Tulisan Sebelumnya »